0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pilgub DKI: Elektabilitas Ahok Turun, Risma Naik Signifikan

Ahok dan Risma (dok.merdeka.com)

Timlo.net — Tingkat keterpilihan petahana Basuki T Purnama (Ahok) mengalami penurunan selama dua bulan terakhir. Meski masih berada di urutan teratas di antara semua bakal calon, perolehan elektabilitas Ahok mengalami penurunan 5,7 persen dibanding bulan Juni lalu.

“Elektabilitas tetap nomor satu paling atas Pak Ahok. Tapi mengalami penurunan dibanding bulan Juni lalu,” kata Managing Director Manilka, Herzaky Mahendra Putra di Bakoel Koffie, Jakarta, Minggu (21/8).

Dari survei elektabilitas top of mind 11-13 Agustus 2016, Ahok memperoleh 43,6 persen. Sementara di bulan Juni, elektabilitas Ahok sebesar 49,3 persen.

Di posisi kedua adalah Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini (Risma) dengan perolehan 14,3 persen. Elektabilitas Risma naik dari survei sebelumnya sebesar 6 persen. Di posisi selanjutnya adalah Yusuf Mansyur 9,6 persen, Ridwan Kamil 7,1 persen, Yusril Ihza Mahendra, 5,9 persen, Sandiaga Uno 5 persen, Anies Baswedan 1,4 persen.

“Meski belum jelas apakah mereka maju atau tidak, tapi ada yang meningkat secara signifikan. Misalnya Bu Risma dan Mas Sandiaga,” jelas dia.

Selain itu juga ada Abraham Lunggana 0,9 persen, Djarot Saiful Hidayat 0,9 persen, Rizal Ramli 0,5 persen, Sjafrie Sjamsoeddin 0,5 persen, Budi Waseso 0,2 persen, Agus Harimurti Yudhoyono 0,2 persen, siapa pun yang muslim 0,2 persen, tidak memilih 1,1 persen dan belum memutuskan 7,2 persen.

Survei ini dilakukan pada Agustus 2016 dengan total 440 responden dengan metode wawancara dipilih secara acak bertingkat (multistage random sampling). Keakuratan survei ini diyakini pada tingkat kesalahan 4,7 persen dari 95 persen tingkat kepercayaan.

Adapun responden ini diambil di wilayah DKI Jakarta dan Kepulauan Seribu. Responden adalah penduduk DKI yang berumur 17 tahun ke atas dan proporsi gender berimbang.

Menanggapi hasil survei ini, peneliti LIPI, Siti Zuhro mengatakan perlunya pertanggungjawaban akademis yang jelas. Dia menilai sebuah survei seharusnya tidak perlu diumbar ke publik jika tidak ada alasan yang tepat dan kegunaan bagi masyarakat luas.

“Survei harus ada manfaatnya bagi masyarakat. Sebaiknya hasil ini hanya untuk keperluan internal saja kalau tidak ada alasan yang mendesak dan perlu disiapkan naskah akademik,” jelas dia.

Selain itu, dia mengatakan ada ketidaksesuaian dalam beberapa segi yang diambil sebagai sampel survei. Kualitas dan kriteria seperti jujur, bersih, merakyat, tegas, menegakan hukum, menjadi role model, dialog, religius, dan sebagainya menyeru dia belum tentu mewakili seluruh persepsi pemilih.

Sementara itu dari segi penerimaan (akseptabilitas) Ahok, menurut survei memperoleh nilai 62,3 persen bisa saja dipertanyakan. “Saya sebagai peneliti mempertanyakan hal ini. Karena ini sangat penting sebagai sebuah informasi yang benar,” jelas dia. [did]

Sumber: merdeka.com

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge