0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Saat Tontowi Ahmad Main, Sang Ayah Baca Surat Yasin

merdeka.com/reuters
Gaya pasangan Indonesia, Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir dengan medali emasnya setelah menjuarai Olimpiade 2016 di Riocentro Pavilion 4, Rio de Janeiro, Brasil, Rabu (17/8). Indonesia akhirnya mendapatkan medali emas pertama di ajang Olimpiade 2016 berkat kemenangan Tontowi dan Liliyana. (merdeka.com/reuters)

Timlo.net – Atlet bulu tangkis ganda campuran peraih emas Olimpiade Brasil, Tontowi Ahmad, berasal dari Desa Selandaka Kecamatan Sumpiuh, Banyumas. Saat laga final, keluarga Tontowi melihat tayangan langsung dari layar televisi di rumah mereka.

“Saya nonton di rumah bersama istri anak dan cucu saya,” ujar ayah Tontowi Ahmad, Muhammad Husni, belum lama ini.

Pertandingan yang cukup menegangkan disaksikan melalui layar televisi oleh Muhammad Husni. Meski begitu, Husni mengaku merasa tegang sepanjang pertandingan yang dimulai sekitar pukul 23.00.

“Ini saya paksakan nonton pertandingannya mas. Sebenarnya, sejak semifinal saya sudah paksakan. Karena, kalau pertandingan-pertandingan sebelumnya saya memilih untuk berdiam diri di kamar untuk berdoa, tidak melihat,” ujarnya.

Perasaan tersebut, menurut Husni, terjadi karena rasa gregetnya saat anak bungsunya sedang berlaga di lapangan badminton. Kondisi tersebut berbeda dengan sang istri, Masruroh yang selalu menyaksikan terus.

“Kalau nonton itu saya seperti gregetan, nggak tegel. Karena sewaktu kecil, saya sendiri yang melatih Owi (sapaan karib Tontowi Ahmad),” ucapnya.

Pernah suatu ketika, ia bercerita pertandingan anaknya disiarkan langsung di salah satu stasiun televisi swasta. Kala itu, puluhan warga sudah berkumpul di depan rumah untuk menyaksikan bersama-sama putra kebanggaan Kecamatan Sumpiuh berlaga.

“Saat itu, saya memilih untuk pergi ke masjid yang tak jauh dari rumah. Saya berdoa saja di sana supaya anak saya menang,” ucapnya.

Pun ketika Husni menyaksikan langsung pertandingan anaknya di Gelora Bung Karno. Bersama anak dan istrinya, Husni menyaksikan pertandingan final laga putranya dalam seri kejuaran dunia badminton.

“Saya memilih menunduk, tidak melihat pertandingannya. Kalau dapat poin saya melihat
ke arah lapangan, kalau mulai saya menunduk lagi sambil baca surat yasin,” ucapnya.

Terlepas dari hal itu, Masruroh menambahkan, kerap melakukan ritual saat putra mereka akan berlaga. Biasanya, lanjut Masruroh, mereka mendoakan sang anak dengan beribadah.

“Biasanya doanya kami tambah, bahkan sampai salat hajat jika lawannya berat,” ucapnya.

Ritual tersebut, menurut Husni, pasti selalu dilakukan. Menurut Husni yang pernah dikenal sebagai atlet bulutangkis di pondok pesantren Gontor, doa dan latihan adalah kunci kesuksesan.

“Olahraga saya pandang hanya sekilas saja, sebagai jalan untuk beribadah,” tuturnya.

[gil]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge