0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kemarau Basah Jadi Berkah Petani

foto: Aditya
Petani di depan pabrik Sari Husada di Desa Kemudo, Kecamatan Prambanan tengah memanen padi. (foto: Aditya)

Klaten – Fenomena kemarau basah alias hujan yang datang pada musim kemarau justru membawa berkah bagi petani yang nekat menanam padi. Kondisi tersebut tentu berbanding terbalik dengan pernyataan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tentang wilayah Klaten mengalami krisis air yang berdampak pada persawahan.

“Harusnya enggak ada air. Tapi ini malah berlebih,” kata Supar (51), petani asal Desa Nangsri, Kecamatan Manisrenggo, Sabtu (20/8).

Menurut Supar yang juga berprofesi sebagai penebas padi ini, secara hitungan kalender petani akan menanam palawija. Namun karena cuaca tidak bisa diprediksi, tak sedikit petani yang nekat menanam padi.

Disinggung harga padi tebasan, dia mengaku, akan menghargai Rp 5.100 per kg untuk gabah kering. Sedangkan harga basah Rp 4.200 per kg. Selama musim kemarau basah ini, Supar sudah menebas padi di beberapa desa di Kecamatan Gantiwarno, Jogonalan, dan Prambanan.

“Kalau wilayah Manisrenggo agak sepi karena terlanjur menanam tembakau. Banyak daun tembakau mati liyer atau akar busuk lantaran diguyur hujan terus menerus. Tapi kalau yang untung-untungan menanam padi justru berkah,” ujarnya saat ditemui panen padi di Desa Kemudo, Kecamatan Prambanan.

Sementara, Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispertan) Klaten, Joko Siswanto mengatakan, belum ada laporan dari kecamatan manapun yang sedang dilanda kekeringan. Bahkan, lahan pertanian, khususnya lahan tanam padi mendapatkan pasokan air yang cukup lantaran tingginya curah hujan.

“Ini kan musim kemarau basah. Ada hujan, ada air. Kecuali kalau kekeringannya kurang minum air bersih, ya mungkin bisa,” kata Joko Siswanto.

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge