0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Sederet Prestasi Tontowi-Liliyana, Mulai All England Sampai Olimpiade

merdeka.com/reuters
Gaya pasangan Indonesia, Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir dengan medali emasnya setelah menjuarai Olimpiade 2016 di Riocentro Pavilion 4, Rio de Janeiro, Brasil, Rabu (17/8). Indonesia akhirnya mendapatkan medali emas pertama di ajang Olimpiade 2016 berkat kemenangan Tontowi dan Liliyana. (merdeka.com/reuters)

Timlo.net – Pasangan ganda campuran bulu tangkis Indonesia, Tontowi Ahmad bersama Liliyana Natsir, meraih emas dalam Olimpiade Rio de Janeiro, Rabu (17/8) kemarin. Pertandingan final yang mereka menangi bertepatan dengan HUT ke-71.

“Keberhasilan ini sebagai kado HUT kemerdekaan Indonesia,” kata Tontowi Ahmad, Kamis (18/8).

Menurut Tantowi, pemain kelahiran Banyumas 18 Juli 1987, emas Olimpiade 2016 memang sudah menjadi target mereka. Oleh sebab itu, persiapan khusus sudah dilakukannya beberapa bulan sebelum berangkat ke Brasil.

Pasangan Tontowi/Liliyana, atau yang akrab dipanggil dengan sebutan Owi/Butet, sudah cukup lama masuk dalam deretan pebulutangkis top dunia untuk nomor ganda campuran, sejak dipasangkan pada awal tahun 2010-an.

Sejumlah gelar juara kelas dunia telah diraih Owi/Butet, di antaranya juara dunia tahun 2013, juara pada sejumlah turnamen super series dan yang cukup fenomenal adalah juara turnamen bergengsi All England tiga kali (2012, 2013, 2014).

Prestasi-prestasi itu juga yang menempatkan mereka selalu berada di peringkat atas, dan terakhir mereka ada di urutan ketiga dunia.

Khusus bagi Liliyana alias Butet, Olimpiade di Rio de Janeiro ini merupakan yang ketiga kalinya. Bahkan pada Beijing 2008, ia berhasil mendapat medali perak ketika berpasangan dengan Nova Widianto.

Pemain kelahiran Manado 19 September 1987 itu juga memiliki impian sama dengan Tontowi Ahmad, yakni mempersembahkan medali emas bagi Indonesia.

Konsistensi mereka sebagai pasangan ganda campuran kelas dunia pun dibuktikan di Olimpiade 2016. Mereka tampil trengginas dan tidak pernah kehilangan satu game pun sejak babak penyisihan grup hingga pertandingan final.

Bahkan pasangan nomor satu dunia Zhang Nan/Zhao Yunlei dari China pun dapat mereka kalahkan di semi final.

Kematangan pasangan Owi/Butet pun terlihat dalam pertandingan final, dimana banyak beban harapan berada di pundak mereka, setelah harapan Indonesia di nomor lainnya sudah berguguran di babak-babak awal.

Apalagi pertandingan melawan Malaysia, banyak faktor mental psikologis yang bisa berpengaruh pada penampilan dan emosi pemain. Di tambah lagi ratusan juta masyarakat Indonesia pun, yang menyaksikan pertandingan itu melalui televisi, mengharapkan kemenangan mereka di Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus.

“Pertandingan di Hari Kemerdekaan ini justru menambah energi dan semangat kami untuk melakukan yang terbaik,” kata Liliyana.

Ketenangan, kekompakan dan kematangan dari Owi/Butet inilah yang menjadi salah satu kunci kesuksesan mereka di Olimpiade, sekaligus memberi kebahagiaan bagi bangsa Indonesia di tengah peringatan 71 tahun Kemerdekaan.

[rnd]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge