0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Dua Pengedar Sabu Ditangkap

ilustrasi (merdeka.com)

Timlo.net — Dua orang bandar narkoba jenis sabu-sabu diamankan polisi. Pengakuan kedua tersangka, barang haram tersebut diperoleh dari narapidana yang mendekam di Lapas Kedungpane, Mijen, Kota Semarang dan Lapas Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Dua bandar tersebut ditangkap di tempat dan waktu yang berlainan di Kota Semarang. Mereka adalah Doni Pangestu (35) alias Dodon warga Sendangguwo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang dan Heri Yulianto (47) warga Seroja Timur Buntu, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang.

Heri ditangkap pada Rabu (10/8) bersama barang bukti sabu 8 gram, yang sudah dipecah menjadi beberapa paket kecil sebanyak 45 paket. Heri mengaku barang haram itu didapatnya dari seorang napi di Lapas Kedungpane, dari bisnis itu dia memperoleh keuntungan Rp 50 ribu untuk tiap satu paket sabu yang dijualnya.

“Komunikasinya lewat handphone. Setelah dapat barang, saya jualnya ketemuan langsung di dekat Lapangan Stadion Diponegoro di Jalan Ki Mangunsarkoro Kota Semarang. Kalau kesehariannya saya kerja jual besi kolong,” ungkap Heri saat digelandang ke Mapolrestabes Semarang, Selasa (16/8).

Sedangkan tersangka Dodon ditangkap di tempat kelahirannya di daerah Kelurahan Kembangsari, Semarang Tengah pada Minggu (14/8) kemarin sekitar pukul 11.00 WIB. Dia mengaku sabu didapat dari seseorang di Lapas Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah yang mengaku bernama Jepang. Dia menggunakan sarana telepon genggam untuk memesan sabu.

Usai dilakukan pemeriksaan, petugas menemukan barang bukti berupa 10 paket sabu hemat atau seberat 6 gram. Sabu itu disembunyikannya di dalam sebuah bungkus rokok. Dibanding tersangka Heri, pengedar Dodon mengaku lebih besar memperoleh keuntungan yaitu mencapai Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu tiap paketnya.

“Saya sudah punya pelanggan tetap. Sasaran pembelinya kalangan menengah ke bawah. Pembayarannya melalui sistem transfer. Kalau kesehariannya saya kerja nyablon sambil jualan ini (sabu). Keuntungannya saya belikan sabu juga, buat saya pakai sendiri,” paparnya.

Kasat Resnarkoba Polrestabes Semarang, AKBP Sidik Hanafi, mengakui kendala sulitnya mengungkap jaringan narkoba karena dikendalikan dari lapas. Belum lagi, pelaku yang berada di Lapas sering menggunakan nama samaran. Sehingga, ketika diselidiki oleh petugas, nama yang disebutkan tersebut tidak diketahui keberadaannya.

“Susahnya pakai nama samaran. Sehingga ketika petugas kami melakukan penelusuran di sana, tidak ada yang mengaku, karena memang tidak ada yang mempunyai nama itu. Kita sudah masuk sesuai prosedur, barangnya pun juga tidak ada di dalam,” kata Hanafi.

Hanafi berjanji akan berkoordinasi dengan pihak lapas untuk mengungkap lebih dalam jaringan narkoba yang masih bertransaksi dari dalam sel.

“Nanti kita akan konfirmasi dengan yang di sana (Lapas). Mudah-mudahan bisa kita deteksi. Karena seketat apapun, peredaran narkoba ini masih bisa komunikasi dengan pihak luar. Sampai saat ini anggota sudah koordinasi. Semuanya nginduk ke sana,” tandas Hanafi.

Selain kedua tersangka, turut diamankan barang bukti sabu 14 gram, yang sudah dipecah dalam beberapa paket kecil, handphone yang digunakan tersangka sebagai sarana komunikasi, timbangan digital dan uang tunai sebesar Rp 2 juta.

[lia]

Sumber : merdeka.com

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge