0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Cemara, Ikon Manahan dan Banjarsari yang Akhirnya Sirna

Petugas mulai menebangi pohon cemara di lapangan Manahan | Ari Kristyono
(Petugas mulai menebangi pohon cemara di lapangan Manahan | Ari Kristyono)

Solo – Bagi warga Kota Solo, pohon cemara di masa lalu identik dengan kawasan berhawa nyaman seperti lapangan Manahan, Banjarsari dan Taman Jurug. Kini hanya tersisa puluhan pohon di Manahan, itu pun satu persatu mulai ditebang, mulai Sabtu (13/8) siang ini.

“Di masa lalu, Manahan itu kawasan olah raga khususnya olah raga berkuda yang menjadi kegemaran penguasa Mangkunegaran. Ditata rapi dengan lintasan pacu dan tribun untuk penonton, lalu di seputar lapangan ditanami pohon cemara yang asri,” tutur Momi Satyotomo, Ketua Himpunan Kerabat Mangkunegaran (HKMN) di Solo, beberapa waktu lalu.

[vrview img=”http://www.timlo.net/wp-content/uploads/2016/06/R0010077.jpg” width=”100%” ]

Tak hanya memagari lapangan, pohon cemara juga ditanam di sepanjang jalan Adisucipto mulai dari depan SMP Negeri 1 hingga bundaran Manahan. Selain itu, lapangan Banjarsari dan boulevard di sekitarnya juga penuh cemara.
“Sekitar tahun 80-an, saya pernah naik menara lampu di Stadion Sriwedari dan dengan mudah bisa mengenali kawasan Manahan dan Banjarsari dari ketinggian, karena pucuk-pucuk cemara terlihat dari sana,” tutur Nurcahyo (51) warga Sriwedari.

Kini, pohon cemara tinggal tersisa puluhan batang akibat pembangunan Plasa Manahan, sedangkan di Banjarsari dan Jurug boleh dikatakan sudah habis digantikan pohon-pohon lain.

Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo beralasan, pohon-pohon tua harus ditebang untuk keselamatan warga. Selain itu, luruhan dauh cemara yang sulit membusuk disebut sering menyumbat drainase kota hingga menyebabkan genangan saat hujan.

Editor : Eddie Mutaqin

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge