0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Teknologi Era Empu Gandring Mencuri Perhatian di Pameran Hakteknas

(Joko Suryono dan salah satu pisau pamor karyanya | Ari Kristyono)

Solo – Dari sekian banyak materi yang dipajang dalam Pameran Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) di Gelora Manahan Solo, 10-12 Agustus 2016, tak semuanya produk teknologi modern. Di stan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, ada sejumlah senjata tradisional yang justru menarik perhatian banyak pengunjung.

“Jangan salah, meski ini senjata tradisional tapi masih relevan untuk perlengkapan standar perorangan militer. Kualitas bahan sangat mumpuni, selain itu juga bernilai estetika yang menjadi nilai tambah,” tutur Joko Suryono yang memamerkan sejumlah senjata tajam berpamor.

Joko Suryono adalah pengajar di ISI Surakarta yang sejak lama mempelajari tentang keris dan senjata tradisional melayu lainnya.  Dalam pameran dua hari ini, dia memajang sejumlah karyanya seperti beberapa macam belati, bayonet, kerambit, pisau komando, skinner, juga senjata tradisional kaum samurai yakni tanto dan katana

Yang membuatnya tampak unik, semua senjata itu dibuat dengan teknik pembuatan keris. “Saya menggunakan baja pilihan, dicampur besi dan nikel lalu dilebur dengan teknik tempa lipat atau puntir. Hasilnya ketika jadi akan muncul motif pamor pada bilah. Kekuatan dan ketajamannya boleh diuji,” ujarnya.

Joko meyakinkan, nenek moyang bangsa Indonesia cukup maju dalam teknologi persenjataan pada masanya.  Bahkan untuk bahan baku seperti besi, mereka sudah mampu mengolah pasir besi menjadi biji logam. Empu-empu keris pada masa ratusan tahun lalu juga sudah mengenal teknik penyepuhan yang baik untuk mendapatkan logam dengan tingkat kematangan dan kekerasan sesuai keinginan.

Jika pisau dengan teknologi tradisional seperti itu harus diproduksi massal, Joko menyebut hal itu bukan mustahil dengan syarat harus dipadukan dengan teknologi modern. “Teknik tempa tetap sama, namun proses penempaan menggunakan mesin, bukan lagi tenaga manusia. Ini sudah banyak dilakukan di Eropa,” tandasnya.

 

Editor : Ari Kristyono

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge