0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Jualan Bubur Letok, Kakek Nenek Ini Naik Haji

Wito Mudihartono (80) dan Ngatini (75), penjual nasi dan bubur letok di depan Rumah Sakit Islam (RSI) Klaten (timlo.net/aditya wijaya)

Klaten — Berpuluh-puluh tahun menabung, keinginan Wito Mudihartono (80) untuk menyusul istrinya, Ngatini (75), menunaikan ibadah haji akhirnya terkabul. Kakek 18 cucu itu masuk dalam kelompok terbang (kloter) 30 SOC untuk calon jamaah haji (calhaj) asal Klaten.

Setiap harinya, pasangan suami istri (pasutri) asal Dukuh Gading Wetan, Desa Belangwetan, Kecamatan Klaten Utara ini berjualan nasi dan bubur tumpang di depan pintu keluar parkir motor Rumah Sakit Islam (RSI) Klaten.

Harganya terjangkau. Karyawan RSI, keluarga pasien atau masyarakat setempat cukup merogoh kocek Rp 6.000 untuk merasakan satu porsi nasi tumpang lethok dan teh manis di warung yang buka mulai pukul 05.00-10.00 WIB tersebut.

”Dulu pernah kerja ikut membangun RSI. Setelah itu coba buka warung nasi bungkus, sampai sekarang. Bahkan dulu pas saya masih kuat ya bawa sendiri gerobaknya. Sekarang sudah tambah tua, yang mengantarkan dagangan dari rumah ke warung ya anak saya,” ujar Wito.

Berjalannya waktu, pasutri yang dikaruniai lima orang anak ini berkeinginan menjalankan rukun Islam kelima.  Lantas mereka menyisihkan keuntungan berjualan nasi dan bubur tumpang untuk membayar biaya penyelenggaraan ibadah haji.

Buahnya, pada 2005 Ngatini dapat berangkat haji. Bahkan pada 2014, istrinya kembali berangkat tanah suci untuk ibadah umrah. Sedangkan Wito baru bisa umrah pada 2015 dan berangkat haji tahun ini. Ia mendaftar haji sejak tahun 2009 lalu.

“Yang penting awalnya niat. Kalau berniat sungguh-sungguh tentu Allah mengabulkan doa kita, pekerjaan dimudahkan dan rezeki lebih. Orang hidup itu juga harus rukun, jujur, jangan berbohong. Kalau berbohong nantinya pasti ketahuan,” pinta Wito kepada wartawan.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge