0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Full Day School, Guru Jadi Kecapekan?

Siswa SMP Al Qolam Gemolong pakai jas saat ambil kelulusan. (foto: Agung)

Timlo.net – Sistem full day school yang akan diterapkan untuk pendidikan dasar SD dan SMP masih menuai pro-kontra. Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PPP, Reni Marlinawati menilai perlunya beberapa pertimbangan dasar sebelum diterapkan.

Reni menyoroti jam kerja guru. Dengan perpanjangan jam belajar, otomatis membuat jam kerja guru juga bertambah. Ditambahnya jam kerja, maka kian minim pula waktu seorang guru mengevaluasi program belajar murid.

“Semakin lama guru di sekolah maka semakin sedikit melakukan evaluasi belajar serta semakin sedikit waktu untuk merencanakan program pembelajaran di hari berikutnya. Saya tidak bisa membayangkan, alangkah repotnya guru-guru tersebut,” kata Reni, Selasa (9/8).

“Berangkat pagi, pulang jam 18.00 sore. Sampai di rumah sudah sangat capek belum lagi memeriksa tugas anak-anak dan menyiapkan rencana pembelajaran hari berikutnya,” sambungnya.

Kedua, soal ketersediaan fasilitas penunjang. Dia menilai tidak semua sekolah siap dilihat dari sisi sarana pendukung. Bahkan, masih banyak sekolah-sekolah yang dinilai belum layak untuk proses belajar mengajar.

“Pertanyaannya, apakah semua sekolah memiliki fasilitas yang memadai walaupun itu di sekolah negeri? Bahkan di dapil saya masih ada SDN lantainya masih dari tanah,” terangnya.

Mendikbud beranggapan kalau anak-anak tetap berada di sekolah, mereka bisa menyelesaikan tugas-tugas sekolah dan mengaji sampai dijemput orang tuanya usai jam kerja. Kemudian anak-anak bisa pulang bersama-sama orang tua mereka.

Pandangan ini dinilai Reni kurang tepat. Sebab, gagasan bahwa orang tua bisa menjemput anak-anak mereka hanya bisa dilakukan di desa-desa bukan di Jakarta dengan tingkat kemacetan tinggi.

“Seolah-olah orang tua anak di Indonesia yang bekerja sepulang bekerja bisa jemput anaknya. Kalau di kampung hal tersebut relatif mudah. Namun di kota besar seperti di Jakarta kemacetan yang luar biasa,” ujarnya.

Sisi lain, perpanjangan jam sekolah akan diisi dengan kegiatan mengaji. Untuk yang satu ini, politisi PPP ini berkomentar tidak semua murid beragama Islam. Oleh sebab itu, fakta ini seharusnya juga menjadi pertimbangan.

“Saya sebagai umat Islam tentu senang, bila program “Full Day” ada alokasi untuk belajar mengaji. Namun masalahnya anak sekolah tidak hanya dari masyarakat muslim. Itu juga harus menjadi bahan pertimbangan,” tegasnya.

Atas sejumlah pertimbangan ini, Reni beranggapan keberhasilan seorang anak tidak hanya ditentukan di satu lingkungan yaitu sekolah. Seorang anak butuh sosialisasi dilingkungan masyarakat.

Sehingga dengan sistem ini, justru membuat proses interaksi dan adaptasi anak terhadap lingkungan masyarakat akan minim dan terbatasi. Hal ini akan berpengaruh tumbuhkembang dan kepercayaan diri si anak di dunia sosial.

“Keberhasilan anak bukan terletak seberapa besar nilai yang diraih namun bagaimana anak memiliki sikap percaya diri, keberanian serta adaptif terhadap lingkungan. Harus diingat, anak memiliki 3 lingkungan yakni di rumah, sekolah dan masyarakat,” tandas Reni.

“Kalau anak hanya hidup di lingkungan rumah dan sekolah sedangkan lingkungan masyarakat sedikit tentu akan merepotkan bagi anak,” tambah dia.

[bal]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge