0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Diserang Liyer, Petani Tembakau Galau

Sejumlah lahan tembakau di wilayah Manisrenggo terserang penyakit akar busuk alias liyer (dok.timlo.net/aditya wijaya)

Klaten — Para petani tembakau di wilayah Kecamatan Manisrenggo, Klaten gelisah. Pasalnya, sejumlah lahan tembakau di wilayah tersebut diserang penyakit liyer alias akar busuk. Akibatnya, kualitas tembakau terancam buruk dan berpotensi menurunkan harga jual.

“Tembakaunya kena liyer. Enggak bisa tumbuh, kerdil, dan layu,” kata Musiman (50), petani tembakau asal Dukuh Losari, Desa Solodiran, Manisrenggo, Senin (8/8).

Menurut dia, penyakit tersebut muncul lantaran masih adanya guyuran hujan dalam sebulan terakhir. Puncaknya, sejak Kamis (4/8) malam lalu, hujan yang melanda selama empat hari berturut-turut mengakibatkan hampir 75 persen tembakau jenis bligon yang ditanamnya terkena liyer.

“Ada satu patok (1800 m²) yang saya tanami tembakau sejak Juli. Seperempatnya sudah mati karena liyer, sehingga terpaksa saya ganti dengan menanam sawi hijau. Padahal ini kan musim kemarau,” ujarnya.

Kegelisahan serupa juga dialami Yani, petani asal Desa Tanjungsari, Manisrenggo. Menurutnya, selain akar membusuk, ciri tembakau terkena liyer adalah daun menjadi layu dan mengembang ke bawah. Padahal, akhir Agustus nanti diprediksi sudah mulai panen pertama.

“Memang (tembakau) butuh air, tapi kalau terlalu banyak air karena curah hujan tinggi ya lama-lama mati. Kemungkinan hasil produksi akan turun 50 persen. Kalau tembakau yang saya tanam seluas ada tiga hektar. Ini hitung-hitungan kasarnya sudah rugi Rp 1,5 juta per patok,” ungkapnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge