0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

TimloMagz

Mengintip Kampung Jalak di Tepi Rawa Jombor

Rahmanto menyuapi bayi burung Jalak yang baru menetas dengan kroto (telur semut cangkrang) di dalam kandang inkubator. Kandang inkubator yang menggunakan pemanas dari lampu bolam itu berfungsi untuk menetaskan telur-telur burung jalak. Dibutuhkan waktu sekitar 12 hari untuk menetaskan telur-telur itu. (foto: LEO)

Timlo.net – Kawasan Rowo Jombor di selatan Kota Klaten dikenal lama sebagai kawasan wisata memancing dan kuliner. Namun siapa sangka, tak jauh dari objek wisata air yang identik dengan warung apungnya ini menyimpan potensi lainnya. Ada sebuah kampung yang sebagian besar kepala keluarganya berprofesi sebagai penangkar burung jalak.

Dukuh Nglebak, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten tersohor dengan sebutan Kampung Jalak. Pasalnya, 80 keluarga dari 125 keluarga di dukuh itu menekuni usaha penangkaran burung jalak. Maka ketika menjejakkan kaki di kampung ini hampir di setiap halaman rumah penduduknya tergantung sangkar burung.

Rahmanto (49) salah satunya. Sekretaris Desa Krakitan ini sejak tahun 2004 mulai merintis penangkaran burung yang dalam bahasa ilmiah disebut Gracupica contra itu. Ia tertarik menggeluti usaha tersebut lantaran produktivitasnya, bukan karena pehobi atau klangenan.

Beruntung, saat memulai usaha, harga jalak suren tengah booming. Bermodal Rp 7 juta untuk sepasang jalak suren, Rahmanto meraup keuntungan. Jalak yang ia pelihara selama empat bulan itu ditawar dan laku terjual Rp 13 juta.

“Rumah yang saya tempati ini ya karena hasil penangkaran jalak. Kalau mengandalkan bengkok atau gaji bulanan ya tidak mencukupi,” ucapnya sembari menyuapi bayi burung yang baru menetas dengan kroto (telur semut cangkrang) di dalam kotak inkubator.

Menurut Rahmanto, usaha penangkaran jalak sangat menggiurkan. Pemilik 60 pasang jalak suren yang disimpan di sebuah bangunan tertutup berukuran 8×6 meter ini mengaku, minimal per bulan mengantongi uang Rp 2,5 juta. Meski harganya fluktuatif, namun jika dibandingkan dengan biaya pengeluaran tetap stabil dan menguntungkan.

Seekor jalak selepas bertelur berusia nol hingga satu bulan dibanderol Rp 125 ribu. Sedangkan jalak umur diatas satu bulan ke atas yang terhitung masih bibit tapi sudah bisa makan dihargai Rp 500 ribu sepasang.

“Hitungannya, produksi biaya pakan indukan sepasang itu Rp 50 ribu. Sedangkan sekali menetas dalam sebulan rata-rata 3 telur. Harganya juga stabil. Kalau misalkan harganya turun ya sekitar Rp 25-50 ribu. Selain itu, pasarnya juga sudah jelas. Banyak pedagang dari luar daerah seperti Magelang, Banyumas, hingga Jakarta mendatangi langsung dari rumah ke rumah yang ada di kampung ini,” hitung Rahmanto.

Cerita serupa juga meluncur dari Ketua Paguyuban Kukilo Arto atau wadah penangkar di Kampung Jalak, Warsono (49). Kepala Dukuh Nglebak itu adalah cikal bakal lahirnya Kampung Jalak. Bermula dari hobi memelihara jalak, Warsono mulai menangkarkan burung jalak sejak 1998. Kesuksesannya membuat warga sekitar mulai mengikuti jejaknya hingga sekarang.

“Sebelumnya warga kebanyakan merantau. Setelah melihat penangkaran burung sangat menjanjikan, warga lantas menetap dan beralih ternak jalak. Anggotanya juga bukan hanya bapak-bapak, bahkan ada seorang nenek berusia 70 tahun yang memiliki 20 pasang burung. Dan dua tahun lalu nenek itu bisa umroh,” cerita Warsono.

Sesuai nama paguyuban, yakni Kukilo Arto yang artinya burung yang menghasilkan uang. Sebanyak 80 warga penangkar jalak di Dukuh Nglebak secara berkala berkumpul setiap bulannya pada tanggal 10 malam untuk menggelar acara arisan.

“Arisan sebagai ajang kumpul, sharing, dan menentukan harga berapa yang disepakati dalam menjual jalak. Jika ada peternak memiliki kendala dalam penyakit, kita pecahkan bersama-sama. Bahkan juga kita datangkan dokter hewan dari Yogyakarta,” jelas Warsono.

Ketika arisan, setiap anggota akan menyetorkan seekor bibit jalak atau setara nominal uang Rp 100 ribu. Setelah terkumpul, undian pemenang arisan dipilih empat orang. Menurutnya, jika saat ini harga sepasang jalak umur diatas satu bulan Rp 500 ribu, maka masing-masing pemenang akan mendapat 3 pasang jalak dan uang Rp 500 ribu atau setara Rp 2 juta, tergantung harga pasaran jalak.

Sejak tahun 2011 arisan tersebut berjalan. Selain memperkuat hubungan sosial, sambung Warsono, perputaran uang dalam arisan juga menggerakkan ekonomi penangkar di Kampung Jalak. Bahkan saat ini lembaga perbankan sudah tidak lagi memandang sebelah mata penangkar.

“Meski masih menggunakan agunan, penangkar yang membutukan modal pasti mendapatkan kucuran pinjaman. Karena untuk merintis usaha penangkaran memang modalnya tidak sedikit. Tapi jika tekun, tentu ada keuntungan yang didapat,” tutupnya.

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge