0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kisah Inspiratif Yusra Mardini, Pengungsi Suriah yang Jadi Atlet Olimpiade 2016

Yusra Mardini. (Dok: Timlo.net/ Zimbio.com)

Timlo.net — Tahun lalu (2015), pengungsi asal Suriah, Yusra Mardini terpaksa berenang untuk menyelamatkan nyawanya saat perahunya tenggelam sebelum mencapai Eropa. Bulan ini, remaja itu akan berkompetisi sebagai atlet renang di Olimpiade 2016 di Brazil.

Yusra merupakan salah satu anggota tim Olimpiade pertama yang terdiri dari para pengungsi. Dia dan saudarinya Sara takut jika mereka akan tenggelam saat perahu yang mereka naiki kelebihan beban dan mulai tenggelam saat mereka melintasi Laut Tengah ke Yunani.

Bersama dengan seorang pengungsi lain mereka melompat di laut dan memakai perahu itu sebagai pelampung selama tiga jam berenang. “Saat saya berada di air ada ketakutan. Anda tidak tahu apakah Anda akan hidup atau mati,” kata remaja puteri berusia 18 tahun itu dalam wawancara yang diterbitkan oleh International Organization for Migration (IOM).

Mardini merupakan salah satu dari 10 atlit yang berada dalam tim pengungsi. Dia akan berkompetisi di kelas gaya bebas 100 meter. Mardini juga akan berbaris di belakang bendera Olimpiade dalam upacara pembukaan di Brazil.

“Saat saya berenang untuk hidup saya, saya tidak akan pernah percaya saya akan berada di mana saya sekarang,” katanya.

Dua bersaudari itu sekarang hidup di Jerman. Keduanya meninggalkan rumah mereka di Damaskus, Suriah setahun lalu dan menuju Turki. Suatu malam mereka naik perahu kecil dari pantai di Turki dengan 20 orang lainnya. Jumlah penumpang tiga kali dari jumlah seharusnya.

“Sebelum Anda naik perahu, orang-orang berkata jika Anda akan mati,” kata Sara kepada IOM.

“Jadi hal pertama yang Anda pikirkan saat naik perahu adalah kematian. Anda tidak memikirkan hal lain,” tambahnya.

Ratusan orang mati saat menyeberangi Laut Tengah dari Turki saat mereka mencoba mencapai Eropa. Ratusan orang ini mengungsi dari konflik dan kemelut politik yang terjadi di Timur Tengah dan tempat lainnya.

Sara berkata kepada saudarinya jika perahu mereka terbalik selama perjalanan mereka harus mencoba menyelamatkan diri mereka karena mustahil menolong setiap orang. Sara sendiri juga adalah seorang perenang.

Saat mesin perahu mati dan perahu itu mulai tenggelam dia menyadari jika dia tidak bisa meninggalkan yang lain untuk mati di laut.

“Kami perlu mengurangi berat dan tidak ada seorang pun di kapal selain kami yang bisa berenang..Saat saya pertama kali masuk ke dalam air seluruh badan saya gemetaran seperti yang saya rasakan sebelum kompetisi,” katanya.

“Saat itu juga saya merasa jika hidup itu lebih besar dari diri saya sendiri. Semua orang di kapal itu adalah bagian dari diri saya,” katanya.

“Saya pikir tugas saya adalah melompat ke dalam air jika saya meninggalkan mereka saya akan merasa bersalah sepanjang umur saya,” tambahnya.

Dia menjelaskan bagaimana salah satu teman ayahnya memotong celananya supaya bajunya tidak memberatkan Sara. Setelah dua jam berenang, Sara mulai berjuang melawan rasa lelah. Dia tahu resikonya besar jika dia tertidur dan tenggelam.

“Saat itu gelap dan dingin, angin bertiup dan saya kedinginan. Saya tidak bisa membuka mata saya lagi, keduanya penuh air asin,” katanya.

Mereka akhirnya tiba di salah satu pulau di Yunani di tengah malam. Saudarinya, Yusra berharap jika ceritanya akan menginspirasi orang-orang lain.

“Sekarang kami berlatih sangat keras. Saya pikir saya ingin membanggakan orang tua saya dan setiap orang yang mendukung saya,” kata Yusra.

Remaja itu memiliki tiga impian. “Saya berharap mereka akan membuka perbatasan untuk para pengungsi dan saya berharap memperoleh sebuah medali untuk Olimpiade dan supaya kampung halaman saya damai lagi,” ujarnya.

Sumber: IndianExpress.com

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge