0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kisah Sukses Peter Gin, Berawal dari Penjaja Pukis di Kaki Lima

PETER GIN - R
Peter Gin ()

Timlo.net – Bekerja keras sejak dini dan tidak ingin sekadar menjadi karyawan, menjadi prinsip hidup pria kelahiran Solo ini. Sebelum menjadi pengusaha sukses dan fotografer terkenal, Peter Gin mengawali karir usahanya dari nol. Dia berjualan kue pukis di pinggir jalan.

Saat merintis usaha dengan berjualan kue pukis itu, Peter masih duduk dibangku SMA Warga Solo. Ketimbang menghabiskan waktu untuk bermain, dia berpikir bagaimana mencari uang saku tambahan.

“Awalnya sempat membantu orangtua berjualan di toko kelontong. Namun karena merasa tidak nyaman, akhirnya saya putuskan untuk membuat usaha sendiri dengan berjualan kue pukis,” ujar bapak dua anak ini kepada TimloMagz.

Peter mengakui, tak mudah terjun ke kaki lima. Orangtuanya sempat melarang dengan alasan dirinya belum berpengalaman, sehingga disarankan untuk bekerja pada orang lain dulu sambil menimba pengalaman.

“Namun karena saya tidak ingin mengabdi untuk orang lain, akhirnya saya putuskan untuk tetap membuka usaha sendiri, walaupun hanya sebagai PKL akan saya jalani,” ungkapnya.

Saat menjadi PKL itu pun banyak suka duka ia rasakan. Mulai dari bangun pukul 03.00 WIB demi membuat adonan. Serta kejar-kejaran dengan petugas Satpol PP tak jarang dia alami.

“Jadi karena seringnya penertiban, kalau ada petugas yang beroperasi saya dibantu warga sekitar menyembunyikan dulu barang dagangan. Setelah petugas pergi saya berjualan lagi,” jelasnya mengenang masa itu sambil tersenyum.

Dari usaha berjualan kue pukis itu, Peter mengaku cukup banyak dapat meraup keuntungan. Bahkan dalam sebulan, keuntungan yang didapat bisa untuk membeli dua sepeda motor bebek sekaligus.

“Karena waktu itu kue pukis cukup booming dan masih jarang yang berjualan, sehingga pembelinya cukup ramai. Karena keuntungan yang didapat juga lumayan, saya sempat memberdayakan ibu-ibu di kampung sekitar rumah untuk membantu mempersiapkan bahan adonan yang akan digunakan untuk berjualan,” ungkapnya.

Setelah hampir dua tahun menjadi PKL, keluarga berbalik mendukung Peter untuk memperbesar usaha. Bahkan dia diizinkan menjadikan rumah tinggal mereka sebagai tempat usaha. Selanjutnya dia juga bekerja sama dengan salah seorang kerabat, membuka usaha kuliner yang sekarang terkenal dengan brand Bakmi Surabaya.

“Jadi kurang lebih sekitar 20 tahun yang lalu, konsep usaha saya berubah total. Dari mangkal dicpinggir jalan, menjadi punya tempat baru yang lebih luas dan nyaman. Hingga kini saya sudah berhasil mengembangkan 12 outlet cabang Bakmi Surabaya di beberapa kota di Jawa Tengah,” ujarnya.

Menjadi Fotografer

Di sela kesibukan berbisnis, sejak sekitar 10 tahun yang lalu, Peter mulai menekuni kembali hobi kecilnya menggunakan kamera dengan menjadi fotografer. Ketertarikannya menjadi fotografer, berawal saat dirinya waktu masih kecil sering mengotak-ngatik kamera ayahnya. Karena waktu itu, orangtuanya sempat memiliki kamera Minolta yang sering digunakan untuk foto-foto bareng dengan keluarga.

“Waktu masih berumur belasan tahun itu, saya sering coba-coba kamera orang tua. Dan ternyata ada semacam chemistry dengan dunia foto. Oleh karena itu saya tertarik untuk menekuninya,” ungkap dia.

Karena secara finansial sudah cukup longgar, aktivitas menekuni hobinya itu pun menjadi semakin intens dilakukan. Bahkan tak jarang, berbagai pelatihan dan workshop fotografer di Jakarta sering diikutinya, agar dapat memperdalam kemampuan dalam memotret.

Meskipun belajar secara otodidak, namun karena ketekunan dan pengalamannya kini ia berhasil menjadi salah satu fotografer yang cukup diperhitungkan. Bahkan tak jarang para artis terkenal, termasuk corporate memanfaatkan jasanya.

“Kalau foto model mungkin sekarang sudah tidak bisa dihitung lagi berapa jumlahnya. Sedangkan untuk artis, diantaranya adalah Diah Ayu Permatasari dan Syahrini pernah pake jasa saya,” terangnya.

Sementara itu untuk corporate, berbagai mall dan hotel seperti The Park, Hartono, Alana dan Fave semua juga memanfaatkan jasanya.

Karena kemahirannya itu, ia juga kerap diorder untuk memotretkan berbagai event di luar negeri. Seperti Tiongkok, Australia, Amerika dan Prancis tak jarang ia sambangi, selama menjalani profesi sebagai seorang fotografer.

Bagi dirinya, menjadi seorang fotografer tidak cukup hanya berbekal teori. Semua harus dipraktikkan, karena dari sana ada banyak pembelajaran yang bisa didapatkan.

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge