0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

TimloMagz

Demam Pokemon Go, Paksa Gamer Keluar Rumah

Game Pokemon Go mulai marak di Wonogiri (timlo.net/tarmuji)

Timlo.net – Sebulan terakhi, Pokemon Go terus menjadi berita di media massa. Meski belum dirilis resmi di tanah air, gaungnya terdengar jelas lewat media cetak maupun online. Bahkan kata Pokemon Go sempat menduduki tiga besar kata yang paling dicari di Google Indonesia.

Game besutan Nintendo bekerja sama dengan Niantic Labs itu memang belum bisa didownload dari sumber resmi di play store untuk Android atau App Store di untuk iPhone. Tapi gamer tanah air tak kalah kreatif. Mereka mencari sumber-sumber download dari website penyedia file APK. Dalam hitungan hari, pemainnya di Indonesia dipastikan mencapai ribuan. Di Solo saja ada ratusan.

“Pastinya berapa, kita nggak tahu pasti. Tapi dari Tim Valor ada seratus lebih yang masuk grup line kita. Belum lagi yang nggak masuk grup sama yang dari tim lain,” kata administrator Grup Line Tim Valor, Juan Arethusa.

Tak heran, game yang satu ini menawarkan konsep yang relatif unik dibanding game-game lain yang banyak beredar. Trainer (sebutan untuk pemain Pokemon Go) diharuskan berjalan-jalan untuk menangkap pokemon sebanyak-banyaknya. Selain itu, ada pokestop yang harus sering-sering dikunjungi untuk mengumpulkan benda-benda yang diperlukan untuk memainkan Pokemon Go. Pokestop adalah tempat-tempat di dunia nyata. Biasanya berupa masjid, gereja, atau landmark yang mudah dikenali.

Bagi beberapa orang, game ini menarik karena memaksa mereka untuk bersosialisasi. Juan misalnya. Ia mengaku jarang sekali keluar rumah. Sehari-hari mobilitasnya terbatas di tempat kerja dan kediamannya saja. Sejak mengenal Pokemon Go, ia jadi sering berjalan-jalan di sekitar lingkungannya untuk berburu monster-monster lucu. Bersamaan dengan itu, ia mau tak mau bersosialisasi dengan tetangganya.

“Saya jadi kenal banyak orang. Apalagi setelah ada grup ini, kita rutin hunting bareng di Sriwedari atau Balekambang,” kata dia.

Pengalaman tersebut bukan hanya dirasakan oleh Juan. Trainer lain, Leonardi Sugianto bahkan tak tahu ada Taman Balekambang di Solo. Baru setelah bermain Pokemon Go, mahasiswa semester empat itu tahu Solo punya taman nan asri bernama Taman Balekambang.

“Kalau nggak main Pokemon, saya nggak bakal tahu ada taman kayak gini di Solo. Ternyata asyik juga tempatnya,” kata dia.

TimloMagz sempat mengikuti acara berburu pokemon Tim Valor di Balekambang. Ada puluhan orang yang ikut. Sebagian besar belum mengenal satu sama lain sebelumnya. Pokemon Go nampaknya berhasil menghilangkan sekat antara mereka. Dengan asyiknya, para trainer itu berbincang-bincang tentang pokemon “peliharaan” mereka. Seolah mereka telah kenal lama.

Dua Sisi Pokemon Go

Sejak dirilis pertama kali di Amerika 6 Juli lalu, Pokemon Go selalu mewarnai pemberitaan media internasional. Dalam seminggu, game AR itu langsung memecahkan rekor aplikasi paling banyak didownload di App Store di iPhone. Gara-gara game yang satu ini, saham Nintendo sempat melonjak dua kali lipat. Keuntungan Apple bertambah 3 miliar USD dari game ini saja.

Kabar seputar Pokemon Go tidak melulu positif. Baru tiga hari beredar di Negara Paman Sam, pemain Pokemon Go dikabarkan menemukan mayat di tepi sungai di Wyoming. Seminggu kemudian, peristiwa serupa terjadi di San Diego. Di Florida, pemain Pokemon Go mati ditembak orang tak dikenal ketika sedang berburu Pokemon di sekitar rel kereta. Hampir setiap hari, kecelakaan terjadi akibat berkendara sambil bermain Pokemon Go.

Beberapa pemilik rumah juga mengeluhkan privasi mereka terganggu karena beberapa kali trainer pokemon masuk pekarangannya tanpa izin. Bahkan ada yang sampai melepaskan tembakan kepada trainer. Beruntung, trainer yang jadi sasaran tidak kena.

Di lingkup nasional memang belum pernah ada peristiwa yang menjadi perhatian publik akibat Pokemon Go. Barangkali memang karena belum resmi dirilis di Indonesia sehingga pemainnya masih terbatas. Namun demikian, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara, Yuddi Chrisnandi telah menerbitkan surat edaran yang isinya melarang PNS bermain game berbasis GPS di lingkungan kantor pemerintah mulai 20 Juli lalu. Di Istana Presiden, larangan itu berlaku untuk semua orang.

“Dengan pertimbangan keamanan dan kerahasiaan instansi, saya minta aparatur negara tidak bermain game virtual apapun dalam lingkungan kantor,” demikian kicau Yuddi dalam akun Twitternya.

Kekhawatiran tersebut sangat beralasan. Di lingkungan pemerintahan, terutama yang berurusan dengan informasi rahasia, kewaspadaan penuh harus diterapkan. Trainer pokemon seringkali memfoto pokemon yang muncul sebelum menangkapnya. Bayangkan saja akibatnya bila di latar belakang ada informasi sensitif apalagi terkait keamanan negara.

Di Solo sendiri belum terdengar adanya kejadian buruk terkait permainan yang satu ini. Hanya salah satu trainer yang punya pengalaman pahit selama berburu Pokemon. Sehari setelah peristiwa pengeboman di Mapolresta Surakarta, Ijank Zona Bramastyan dan kawannya, Lucky Mao berkeliling kota untuk berburu pokemon. Tak jauh dari pos polisi, mereka mendapatkan pokemon yang jadi incaran. Dianggap mencurigakan, dua remaja itu dipanggil ke pos polisi untuk diinterogasi.

“Kita sudah bilang kalau kita sedang main Pokemon Go. Sampai kita peragakan cara mainnya. Tapi tetap saja pak polisi itu nggak percaya,” tutur Ijank.

Akhirnya mereka boleh pergi setelah meninggalkan fotokopi KTP.

Peristiwa lain yang cukup memprihatinkan, di sebuah musholla di kawasan Petoran mendadak muncul zubat (sejenis pokemon berbentuk kelelawar). Meski tidak tergolong langka, menemukan zubat bukan hal mudah karena kemunculannya sulit ditebak. Bukannya ke mushola untuk salat, para trainer di sekitar Petoran langsung berbondong-bondong menangkapnya.

“Saya heran biasanya sepi kok ini rame banget. Ternyata nggak pada salat malah cuma mau nangkep pokemon,” kata salah satu warga, Adrian.

Sopannya Trainer Solo

Di satu sisi, permainan ini memang belum bisa diunduh dengan bebas di Play Store maupun App Store. Hanya mereka yang melek teknologi saja yang bisa mengaksesnya. Dengan demikian, tak banyak kecelakaan terjadi karena game ini. Namun harus diakui, para trainer di Solo cukup dewasa untuk tidak coba-coba berkendara sambil main pokemon go.

“Kita kalau main pakai motor atau sepeda, cukup pakai headset. Handphone disimpen di kantong jadi mata tetap fokus ke jalan. Kalau ada pokemon muncul atau kebetulan lewat pokestop, notifikasinya kan kedengeran lewat headset. Minggir sebentar, baru tangkep pokemonnya. Habis itu lanjut jalan lagi,” kata Juan.

Terkait peristiwa di mushola di Petoran, dia mengakui terkadang sulit menahan hasrat untuk memburu monster-monster lucu itu. Meski demikian, ia mengajak para trainer untuk tetap menghormati orang lain terutama di tempat-tempat yang sakral seperti tempat ibadah.

“Kalau ketemu orang juga kalau bisa menyapa lah. Jangan mantengin layar hape terus. Sama jangan masuk pekarangan rumah orang apalagi masuk tempat ibadah cuma untuk nyari pokemon. Cukup dari luar kan bisa,” pesannya.

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge