0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Duhh, Bocah Piatu Ini Harus Merawat Ayahnya yang Lumpuh

dok.timlo.net/nanin
Wafa, gadis 8 tahun, yang harus merawat ayahnya yang menderita lumpuh setelah terjatuh dari pohon (dok.timlo.net/nanin)

Boyolali — Wafa Dhia Faiha Khoirunnisa (8), di usianya yang masih sangat muda harus menanggung beban hidup. Bagaimana tidak? Siswi kelas II SDIT An Nur, Selondoko, Ampel, Boyolali ini, sejak usia 6,5 tahun sudah jadi piatu karena ditinggal meninggal ibunya. Belum hilang duka ditinggal Sang Ibu, ee.. ayahnya, Suyadi (37) menderita lumpuh setelah terjatuh dari pohon.

“Saya sudah lupa wajah ibu,” kata Wafa, memulai bercerita saat ditemui di rumahnya, Dukuh Penthur, Desa Selondoko, Ampel, Senin (25/7).

Saat ini, Wafa tinggal bersama dengan Jamilah (40), sang bibi. Sehari-hari, sang bibilah yang mengurus kebutuhan hidup Wafa, sejak sang ayah menderita lumpuh dan tangan kirinya diamputasi setelah terjatuh dari pohon. Untuk mencukupi kebutuhan hidup, Jamilah, mengandalkan hasil dari berjualan makanan ringan di depan sekolah.

Sementara menurut Jamilah, dengan penghasilan Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu dari hasil berjualan makanan ringin, tidaklah cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Apalagi juga harus menanggung biaya berobat sang kakak, Suyadi. Beruntung, saat ini sang kakak, Suyadi, bisa mendapatkan akses kesehatan BPJS. Bahkan untuk saat ini, Suyadi sedang dirawat di RSUD Pandanaran karena menderita batu empedu.

“Untung ada dermawan dan BPJS, jadi kakak saya bisa dioperasi,” imbuhnya.

Selain itu, pihaknya juga mendapat bantuan dari masyarakat sekitar. Hal ini dibenarkan Ketua Rt 01, Dukuh Penthur, Desa Selondoko, Sudardi (39). Pihaknya mengaku prihatin dengan kondisi keluarga Suyadi. Untuk membantu kebutuhan hidup keluarga tersebut, masyarakat secara sukarela mengumpulkan dana sukarela.

“Dikumpulkan setiap selapan atau 35 hari dalam hitungan bulan Jawa,” ujar Sudardi.

Sementara itu, pihak sekolah dimana Wafa bersekolah juga menggratiskan seluruh biaya pendidikan. Mulai dari seragam sekolah, buku dan makan siang, semuanya ditanggung oleh perkumpulan wali murid kelas II. Wafa juga diikutkan program pengembangan atau les gratis.

“Wafa ini anak yang pintar, jangan sampai pendidikanya terhenti,” tandas Kepala SD IT An Nur, Erma Yuliati.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge