0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Beternak Jalak Suren Antarkan Warga Ibadah Umroh

timlo.net/aditya wijaya
Warsono, ketua paguyuban arisan di Kampung Jalak di Dukuh Nglebak, Krakitan, Bayat, Klaten (timlo.net/aditya wijaya)

Klaten — Paguyuban peternak atau penangkar burung jalak di Dukuh Nglebak, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten, memiliki cara tersendiri untuk menjaga tali persaudaraan. Warga Kampung Jalak itu rutin menggelar arisan setiap bulannya.

“Sudah hampir tiga tahun berjalan dan sampai sekarang masih eksis. Namanya paguyuban arisan Kukilo Arto yang artinya burung yang menghasilkan uang,” kata Ketua Paguyuban Kukilo Arto, Warsono (49), Senin (18/7).

Arisan tersebut diikuti sebanyak 80 orang yang merupakan warga Kampung Jalak. Mereka secara berkala berkumpul setiap bulannya pada tanggal 10 malam. Pasalnya, arisan merupakan salah satu sarana untuk menjaga kebersamaan antar anggota paguyuban.

“Arisan sebagai ajang kumpul, sharing, dan menentukan harga berapa yang disepakati dalam menjual jalak. Jika ada peternak memiliki kendala dalam penyakit, kita pecahkan bersama-sama, bahkan kita datangkan dokter hewan dari Yogyakarta,” jelas Warsono yang sudah nenggeluti ternak jalak sejak 1998.

Ketika arisan, setiap anggota akan menyetorkan seekor bibit jalak atau setara nominal uang Rp 100 ribu. Setelah terkumpul, undian pemenang arisan dipilih empat orang. Jika saat ini harga sepasang jalak umur di atas satu bulan Rp 500 ribu, maka masing-masing pemenang akan mendapat tiga pasang jalak dan uang Rp 500 ribu atau setara Rp 2 juta, tergantung harga pasaran jalak.

Selain memperkuat hubungan sosial, menurut Warsono, yang juga Kepala Dukuh alias Bayan Nglebak, perputaran uang dalam arisan juga menggerakkan ekonomi peternak di kampung yang dirintis sejak 2011 silam tersebut. Meskipun masih menggunakan agunan, lembaga perbankan juga tidak lagi memandang sebelah mata dalam mengucurkan pinjaman.

“Sebelumnya warga kebanyakan merantau. Setelah melihat penangkaran burung sangat menjanjikan, warga lantas menetap dan beralih ternak jalak. Anggotanya juga bukan hanya bapak-bapak, bahkan ada seorang nenek berusia 70 tahun yang memiliki 20 pasang burung. Dan dua tahun lalu bisa menghantarkannya untuk umroh,” bebernya.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge