0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Menengok Geliat Ekonomi Kampung Jalak

Raup Jutaan Rupiah dari Beternak Jalak Suren

timlo.net/aditya wijaya
Rahmanto, Sekretaris Desa (Sekdes) Krakitan yang juga salah satu peternak jalak suren di Kampung Jalak Klaten (timlo.net/aditya wijaya)

Klaten — Kawasan Rowo Jombor dikenal sebagai surga wisata memancing dan kuliner. Namun siapa sangka, tak jauh dari objek wisata air yang identik dengan warung apungnya ini menyimpan potensi lainnya. Ada sebuah kampung yang sebagian besar kepala keluarganya berprofesi sebagai penangkar burung jalak.

Ya, Kampung Jalak namanya. Terletak di Dukuh Nglebak, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten, kampung ini merupakan pusat para peternak burung jalak. Lokasinya mudah ditemukan, lantaran gapura selamat datang menuju Kampung Jalak berada persis di dekat portal masuk Rowo Jombor dan bukit Sidoguro.

timlo.net/aditya wijaya

Memasuki kampung ini hampir di halaman rumah setiap penduduknya tergantung sangkar burung. Salah satu dari 80 KK peternak jalak ialah Rahmanto (49). Sudah belasan tahun sang Sekretaris Desa (Sekdes) Krakitan ini menggeluti bisnis ternak jalak suren.

“Karena sebanyak 80-an KK dari 125 KK di kampung kami merupakan peternak burung jalak. Maka disebut Kampung Jalak. Kalau saya ternak jalak suren bukan karena penghobi atau klangenan, tapi yang saya ambil produktivitasnya. Bukan kicauannya,” ujar dia.

timlo.net/aditya wijaya

Bermodal membeli sepasang jalak suren seharga Rp 7 juta pada 2004, Rahmanto mulai merintis penangkaran burung yang dalam bahasa ilmiah disebut Gracupica Contra. Beruntung, sebagai pemula pada tahun itu bisnis jalak suren tengah booming. Baru memelihara empat bulan, jalak indukannya itu sudah ditawar Rp 13 juta.

Berjalannya waktu dengan semakin banyaknya peternak di tempat lain, harga jalak cenderung turun naik namun tetap stabil. Pasalnya, mereka telah memiliki pasar. Bahkan banyak pedagang dari luar daerah seperti Magelang, Banyumas, hingga Jakarta mendatangi langsung ke dari rumah ke rumah yang ada di Kampung Jalak.

Saat ini jalak selepas bertelur berusia nol hingga satu bulan dihargai Rp 125 ribu per ekor. Sedangkan jalak umur diatas satu bulan ke atas yang terhitung masih bibit tapi sudah bisa makan dihargai Rp 500 ribu sepasang.

timlo.net/aditya wijaya

“Per bulan minimal mengantongi Rp 2,5 juta. Hitungannya, produksi biaya pakan indukan sepasang itu Rp 50 ribu. Sedangkan sekali menetas dalam sebulan rata-rata tiga telur. Harganya juga stabil, pasar juga jelas. Kalau misalkan turun ya sekitar Rp 25-50 ribu,” beber Rahmanto pemilik 60 pasang jalak suren.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge