0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Puncak Syawalan, 16 Gunungan Ketupat Jadi Rebutan

timlo.net/aditya wijaya
Ratusan warga memperebutkan gunungan ketupat di Bukit Sidoguro, kawasan Rowo Jombor Klaten (timlo.net/aditya wijaya)

Klaten — Ratusan warga berdesak-desakan memperebutkan belasan gunungan ketupat di Bukit Sidoguro, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Rabu (13/7). Mereka datang dalam puncak acara Syawalan di dekat Rowo Jombor itu untuk melestarikan tradisi yang berlangsung bertahun-tahun setelah sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri.

“Memang setiap tahun saya selalu hadir bersama anak dan suami. Ini hanya kebagian sayur-sayuran. Padahal saya sudah menunggu sejak pukul 07.30 tadi,” kata Harni (46) warga Buntalan, Kecamatan Wedi.

Sebelum diperebutkan, gunungan ketupat diarak dari kaki bukit berjarak sekitar 250 meter menuju puncak Sidoguro. Selain 5.000 ketupat siap saji dan 16 gunungan dari Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora), sejumlah instansi pemerintah maupun swasta juga menyediakan gunungan. Bahkan salah satu Bank menyelipkan 10 voucher senilai Rp 500 ribu di sela-sela gunungan ketupat.

“Kupat (ketupat) dibungkus janur, berasal dari bahasa arab An-Nur yang berarti datangnya cahaya. Kupat diartikan mengaku lepat (salah), dan kupat ketika dibelah isinya putih mengibaratkan hati kita yang bersih dari iri dengki. Puncak syawalan di Bukit Sidoguro ini bertujuan untuk melestarikan tradisi budaya, ajang silaturahim warga, sekaligus promosi pariwisata,” kata Kepala Disbudpora Klaten, Joko Wiyono.

Hal senada juga disampaikan Bupati Klaten Sri Hartini. Puncak tradisi syawalan adalah nilai luhur seni dan budaya warisan nenek moyang. Tradisi tersebut diharapkan mampu menjadi pemersatu sekaligus wujud interaksi tanpa sekat.

”Kami juga berharap agar potensi budaya dan kepariwisataan di Bukit Sidoguro ditata menyeluruh dengan melibatkan sektor-sektor terkait,” ucap dia.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge