0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Syawalan, Berkah Pedagang Selongsong Ketupat

Pedagang selongsong ketupat di depan Pasar Wedi, Klaten (dok.timlo.net/aditya wijaya)

Klaten — Berbekal sepeda motor dengan diberi bronjong pada jok belakang, Kasiyanto (46) berdagang ketupat. Ia turut meramaikan suasana di depan Pasar Wedi, Klaten untuk menjajakan wadah makanan khas Lebaran yang berbahan janur kelapa tersebut.

“Baru keluar (jualan) hari ini dan hanya bawa 300 selongsong ketupat. Tujuannya memang ke sini, karena tahun lalu ramai,” ujar Kasiyanto, Selasa (12/7).

Menurut warga Dukuh Ngargopuro, Desa Randu Lanang, Kecamatan Jatinom ini, satu ikat berisi 10 selongsong ketupat dia jual Rp 8.000 – Rp 10.000. Sedangkan bahan bakunya gratis lantaran mengambil dari pohon kelapa di kebun.

“Enggak jual bentuk daun blarak (lembaran janur). Jadi sejak semalam anak istri saya sudah gotong royong membuat selongsong ketupat untuk dijual hari ini,” ucap Kasiyanto yang sehari-hari bekerja buruh lepas.

Sementara pedagang lainnya, Ngatiyem (38), sudah lebih 10 tahun ikut menjajakan ketupat. Ia memanfaatkan sela waktu berjualan bunga tabur untuk merangkai selongsong ketupat di depan Tugu Wedi sejak Minggu (10/7) lalu.

“Kalau saya juga jual blarak. Per 10 biji dijual Rp 4.000. Sedangkan untuk 10 selongsong ketupat atau satu ikat dijual Rp 10.000. Karena ini harga bunga sudah turun, padahal malam lebaran kemarin per kilo sampai Rp 150 ribu. Biasa, harga bunga kalau mahal kayak emas, tapi kalau murah kayak sampah,” tutur perempuan asal Dukuh Gajihan, Desa Pandes, Kecamatan Wedi itu.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge