0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Begini Cara Walikota Solo Sambut Pemudik

Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo ambil peran dalam Opera Ramayana (dok.timlo.net/david fajar)

Solo — Pemerintah Kota Solo menggelar pertunjukan tari kolosal Opera Ramayana di pelataran Benteng Vastenburg, beberapa waktu lalu. Opera ini merupakan sambutan dari Pemkot Kota bagi para pemudik yang memasuki Kota Bengawan.

Ribuan orang memadati areal Benteng. Sebanyak 3.000 kursi disediakan untuk pengunjung dalan opera yang digelar secara gratis tersebut. Panitia penyelenggara juga menyediakan karpet untuk lesehan guna menampung penonton yang tak kebagian tempat duduk.

Di bagian depan gapura masuk, berjejer stan penjual makanan tradisional, mulai dari soto, tengkleng, cabuk rambak, hingga angkringan. Mereka turut meramaikan gelaran yang menginjak tahun kedua ini.

“Solo sebagai kota budaya tentu saja tidak boleh kehilangan jati dirinya. Karenanya gelaran ini tak hanya sebagai ucapan selamat datang kembali bagi para pemudik, juga sekaligus untuk melestarikan budaya itu sendiri,” papar FX Hadi Rudyatmo selaku Walikota Solo.

Pertunjukan diawali dengan adegan pembuangan Rama Wijaya didampingi istrinya, Dewi Shinta dan adik tercintanya Lesmana, di Hutan Dandaka. Namun ketenangan mereka terusik kala dua pasang mata mengawasi mereka dengan tatapan iri.

Ya, Rahwana dan bawahannya Kalamarica mengintip dari balik semak. Timbul rasa dalam diri Rahwana untuk memiliki Dewi Shinta yang berparas elok. Diperintahkannya Kalamarica untuk menjelma menjadi Kijang Kencana dan memikat Dewi Shinta.

Demi cintanya terhadap istri, Raden Rama memburu kijang tersebut. Setelah beberapa saat, Dewi Sinta merasa cemas karena sang suami belum juga pulang, sehingga menyuruh Raden Lesmana untuk mencari Raden.

Di tempat lain, Raden Rama terkejut tatkala panah yang dilepaskan menembus tubuh Kijang Kencana, karena tiba-tiba kijang tersebut berubah menjadi raksasa. Terjadilah peperangan antara Raden Rama dan raksasa. Tanpa butuh waktu banyak, raksasa Kalamarica dapat terbunuh. Bersamaan dengan itu, Lesmana datang menghampiri Rama, kemudian mereka berdua kembali ke tempat Dewi Sinta berada.

Kesempatan emas itu tak disia-siakan oleh Rahwana. Dengan berbagai cara dia mencoba menculik Dewi Shinta untuk diperistri. Di atas awan, seekor burung yang bernama Jetayu sedang memperhatikan gerak gerik Rahwana yang membawa Dewi Sinta. Mengetahui gelagat yang kurang baik dari Raja Alengka itu Jatayu langsung melawan Rahwana tetapi Jatayu dapat dikalahkan oleh Prabu Rahwana hingga terjatuh turun ke bumi.

Dalam perjalanan menuju ke tempat Dewi Sinta, Raden Rahwana dan Lesmana dikejutkan oleh jatuhnya Jatayu dan langit tepat dihadapan Raden Rama. Sebelum meninggal Jatayu mengatakan kalau Dewi Sinta telah diculik oleh Prabu Rahwana dari kerajaan Alengka.

Adegan lain menggambarkan Alun-alun Maleyawan. Saat itu terjadi pertengkaran antara kedua kera yaitu Raden Anoman dan Raden Anggodo. Mereka berebut untuk menjadi duta bagi Raden Rama. Prabu Sugriwo melerai mereka kemudian Raden Rama memutuskan bahwa duta bagi Raden Rama adalah Raden Anoman.

Selanjutnya perjalanan Raden Anoman menuju ke Negeri Alengka sungguh sangat berbahaya, di tengah perjalanan di atas lautan luas yang bernama Minangkalbu, Raden Anoman harus berperang melawan raksasa yang bernama Wil Kataksini.

Adegan selanjutnya mengambil latar di taman keputren Negeri Alengka atau yang lebih dikenal dengan nama Taman Soka. Dewi Shinta tampak bersedih karena telah dipisahkan dari suaminya oleh Prabu Rahwana yang menginginkan Dewi Sinta menjadi permaisurinya. Kepedihan Shinta agak berkurang lantaran selalu dihibur oleh keponakan Prabu Rahwana, Dewi Trijata.

Dalam kesedihan itu datanglah Raden Anoman ke taman Soka untuk menyampaikan pesan dari Raden Rama kepada Dewi Shinta . Tetapi kehadiran Anoman diketahui oleh para punggawa kerajaan, akhirnya Anoman di bawa ke pengadilan kerajaan Alengko dan Anoman dijatuhi pati obong atau dibakar hidup-hidup.

Anoman dibakar, namun dia tidak mati, justru malah tertawa. Melihat hal itu Indrajit pangeran dari kerajaan Alengka menjadi eksekutor bagi Anoman terkejut, sebab tubuh Anoman membesar menjadi tubuh raksasa. Dengan tubuh yang diselimuti api, Anoman mengamuk dan membakar seluruh bangunan di negeri Alengka tak luput pula kediaman Prabu Rahwana.

Peperangan besar terjadi. Pasukan raksasa dari Alengka yang dipimpin langsung oleh Prabu Rahwana melawan pasukan kera yang di pimpin oleh Raden Rama. Dalam pertempuran itu pasukan raksasa mengalami kekalahan hingga Prabu Rahwana tewas di medan pertempuran.

Dalam sajian berdurasi dua jam tersebut, Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo juga turut berperan sebagai Guru dari Sang Anoman. Selain itu. pertunjukan yang dikemas musikal oleh komposer Dedek Wahyudi ini juga menghadirkan seorang pengrawit dari London Inggris, John Wave. John yang juga mahasiswa pasca sarjana ISI Solo ini bahkan menempuh perjalanan darat dengan bersepeda selama 20 bulan untuk sampai ke Indonesia, demi pertunjukan ini.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge