0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

HUT ke-106, Wayang Orang Sriwedari gelar Begawan Ciptoning

Salah satu adegan lakon begawan Ciptoning (timlo.net/heru murdhani)

Solo — Seakan tak perduli dengan hujan yang mengguyur kawasan Kota Solo, penonton tetap bersemangat menghadiri peringatan 106 tahun Wayang Orang Sriwedari (WOS), Minggu (10/7) malam. Penonton yang terdiri dari tua, muda, dan anak-anak ini tampak antusias mengikuti jalannya pertunjukan di Gedung Wayang Orang Sriwedari.

Pertunjukan dimulai sekitar pukul 20.00 WIB. Tampak penonton berdesakan untuk masuk ke dalam gedung berkapasitas 700 orang tersebut. Pertunjukan dibuka langsung oleh Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo.

“Tugas kita itu hanya satu, yakni menjaga dan mengembangkan budaya ini untuk bisa dinikmati anak cucu kita kelak. Wayang Orang Sriwedari ini bahkan sudah ada sebelum kita semua lahir, apa tidak khawatir jika (wayang) ini menjadi merosot dan hilang penggemarnya? Karenanya perlu ada dukungan dan dorongan dari semua pihak,” ungkap pria yang akrab disapa Rudy ini.

Dengan mengambil tema Menjunjung Jati Diri Budaya Bangsa, pertunjukan dengan lakon Ciptoning ini dimainkan secara apik oleh pelakon wayang lintas generasi. Menurut Agus Prasetyo sang sutradara, pertunjukan ini didukung oleh generasi kedua, generasi ketiga hingga regenerasi WOS saat ini.

Lakon Ciptoning mengambil latar Mahabhrata. Saat itu perang besar diantara keluarga Bharata sedang terjadi. Arjuna di pihak Pandawa mengasingkan diri dan bertapa di Pertapaan Indrakila. Dalam semadinya Arjuna meminta kepada Dewa untuk memenangkan pihak Pandawa.

Dalam pertapaan tersebut, Arjuna digoda oleh bangsa lelembut hingga bidadari. Namun keteguhan Arjuna dalam meraih kemuliaan tak bergeming dengan godaan macam apapun.

Akhirnya, iba lah hati Batara Narada, dan melaporkan hal ini kepada Batara Guru yang berada di Khayangan. Ternyata, di khayangan sendiri sedang terjadi geger lantaran ada raksasa sakti yang mengobrak-abrik Khayangan, bernama Niwatakawaca.

Selanjutnya, Batara Guru menurunkan panah Pasopati kepada Arjuna dengan syarat Arjuna harus berhasil mengalahkan Niwatakawaca. Pertempuran berlangsung, dua orang tersebut sama kuat. Namun akhirnya Niwatakawaca berhasil dibunuh oleh Arjuna.

Pertunjukan berdurasi dua jam tersebut, berlangsung atraktif. Bahkan beberapa adegan dilakukan di area tempat duduk penonton. Hal ini dilakukan untuk menjalin kedekatan antara pemain dan penonton.

“Pertunjukan ini merupakan upaya untuk mengembalikan kegemilangan dan kejayaan wayang orang Sriwedari dalam persaingan hiburan di era modern,” papar Agus Prasetyo.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge