0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Dramatikal Geguritan, Ramadan dalam Puisi

Ramadan dalam puisi oleh Kelompok Ketholeng Institute Boyolali (timlo.net/nanin)

Boyolali — Bulan Ramadan, bulan yang suci bagi umat Islam. Di bulan inilah, saatnya untuk  intropeksi diri dalam memaknai kehidupan. Melalui pentas puisi dan geguritan yang digelar Kelompok seni Ketholeng Institute, Boyolali, mengajak masyarakat untuk merefleksi kehidupan.

Selain puisi, kegiatan seni yang digelar di Jalan Durian, atau depan gedung Panti Marhen, juga dipentaskan dramatikalisasi geguritan, dengan tema mengenai lahirnya aksara Jawa Hanacaraka oleh Pangeran Ajisaka yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan.

Diawali kisah angkara murka yang menuturkan keserakahan manusia dan membuatnya lupa bahwa hidup membawa amanah. Lahirnya aksara Jawa ini mengingatkan manusia dari mana mereka berasal, bagaimana seharusnya hidup dan kemudian mati.

“Kita harapkan ini bisa menjadi ajang intropeksi diri bagi masyarakat Boyolali,” ujar Ketua Ketholeng Institute, Ribut Busan, Minggu (3/7).

Disisi lain, Wakil Bupati Boyolali, Said Hidayat, mengakui Boyolali kaya dengan seniman-seniman muda. Said berharap kegiatan seni ini bisa menjadi bagian penting dalam pembangunan, terutama dalam mengeratkan persatuan dan kesatuan masyarakat Boyolali.

“Harapan kita, kegiatan budaya ini bisa seiring dengan pembangunan,” tandasnya.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge