0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pemudik Dihipnotis, HP dan Uang Rp 16 Juta Melayang

Pelaku hipnotis di periksa petugas (merdeka.com)

Timlo.net — Matahuddin (47), warga Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara yang baru pulang dari Jayapura, menjadi korban hipnotis saat baru turun kapal. Satu HP dan uang tunai Rp 16 juta hasil jerih payahnya bekerja sebagai tukang bangunan di Jayapura, melayang tak berbekas.

Pelakunya Ramallang (42), berhasil dicokok polisi di rumahnya di Jalan Tinumbu, Makassar, Kamis (30/6) pukul 04.00 WITA. Satu timah panas sempat bersarang di atas betis kirinya.

Matahuddin membeberkan, peristiwa nahas yang dialaminya terjadi Selasa (28/6), saat kapal Gunung Dempo yang ditumpangi bersandar di Pelabuhan Soekarno Hatta, Makassar.

Dia lantas ditemui sopir yang menanyakan tujuan. Setelah sepakat tarif Rp 250 ribu ke Kabupaten Kolaka Utara, tiba-tiba datang Ramallang, menepuk pundak korban sambil bertanya.

“Saat pundak ditepuk, sejak itu saya ikuti saja maunya pelaku,” kata Matahuddin.

Pelaku mengaku juga hendak ke Kolaka Utara tapi sebelumnya butuh uang rupiah untuk ditukarkan dengan mata uang Brazil dan Malaysia miliknya. Ada laki-laki lain lagi muncul mengaku tahu tempat penukaran uang. Korban lalu dibawa keliling tak jelas di dalam kawasan pelabuhan dengan berjalan kaki.

Saat keliling itu, Matahuddin diperlihatkan sebuah jam tangan dalam kotak yang katanya berbahan emas tapi belakangan diketahui imitasi. Ramallang mengaku harga jam tangan itu puluhan juta rupiah.

Matahuddin dibujuk hingga akhirnya terbuai dan membeli jam tangan imitasi Rp 16 juta dan juga satu unit ponsel. Selain jam tangan, Matahuddin juga diberikan satu lembar uang kertas mata uang Brazil. Setelah itu Matahuddin ditinggalkan begitu saja lalu Matahuddin kemudian naik ke mobil yang semula hendak disewa.

“Di tengah perjalanan saya baru sadar kalau saya sudah tidak miliki uang, barang-barang juga entah ke mana. Saya langsung merasa sadar kalau sudah ditipu. Saya langsung minta diturunkan oleh sopir saat melintas di daerah Daya. Di pos polisi itu saya melapor kemudian menuju Mapolda Sulsel. Saya seperti dihipnotis,” kata Matahuddin.

Ipda Nurhayati, penyidik di unit 3 Subdit 4 Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Sulsel menjelaskan, pelaku berhasil diringkus atas bantuan petunjuk sinyal ponsel korban.

“Ponsel itu aktif terus sehingga bisa langsung terlacak. Selain itu korban masih kenali ciri-ciri fisik pelaku, sehingga mudah terdeteksi karena pelaku ini sudah keluar masuk penjara dengan kasus serupa,” jelas Ipda Nurhayati.

Selama Ramadan, pelaku sudah empat kali melakukan tindak penipuan dan lokasi kejadiannya di pelabuhan Soekarno Hatta, dan baru tertangkap selama Ramadan ini.

“Pelaku dijerat pasal 378 KUHPidana, pasal penipuan dengan ancaman tiga tahun, delapan bulan penjara,” kata Ipda Nurhayati.

[cob]

Sumber : merdeka.com

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge