0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

TimloMagz

Kreativitas Menciptakan Ruang Kreatif di Solo

Creative space (foto: Ist)

Timlo.net – Sekumpulan remaja tampak asyik bercengkrama sambil bersenda gurau mengelilingi sebuah meja panjang. Di tengah meja, terpajang model kertas berbentuk robot, pesawat, mobil, tokoh anime, atau bentuk-bentuk lain yang tak terbayangkan.

Di meja lainnya, sekelompok pria dewasa dengan santai tapi tetap serius tengah berdiskusi tentang museum. Sebuah void lebar memisahkan dua meja dengan dua kelompok usia yang berbeda itu.

Kurang lebih seperti itulah, suasana lantai dua Pasar Kembang ketikat TimloMagz berkunjung beberapa waktu lalu. Ya, Anda tidak salah baca. Lantai dua pasar kembang kini bukan lagi gudang berisi perabot tak terpakai.

Area pasar yang dulu terbengkalai tak berpenghuni itu menjelma ruang bermain bagi berbagai komunitas di Solo lengkap dengan wedangan di salah satu sudutnya.

Kebutuhan ruang publik di Solo selama ini memang dirasa masih kurang. Pemerintah Kota Solo sudah berupaya menyediakan ruang publik di berbagai tempat.

Namun mayoritas berupa ruang terbuka seperti Manahan, City Walk, serta taman-taman di sudut-sudut kota. Faktanya, banyak komunitas yang masih kesulitan mencari tempat berkegiatan terutama kegiatan-kegiatan yang membutuhkan area tertutup seperti diskusi, workshop, atau sekadar bercengkrama antarteman.

Situasi itu mendorong beberapa orang untuk membangun ruang publik, terutama untuk menuangkan kreatifitas masyarakat. Muncullah Creative Space di berbagai sudut Kota Solo seperti Cangwit Creative Space dan Pakem Galery, Workshop and Coworking Space. Dua tempat itu berusaha mewadahi kegiatan berbagai komunitas di Solo. Uniknya, dua tongkorngan itu sama-sama ada di Pasar Tradisional.

Cangwit Creative Space

Berawal dari tuntutan kebutuhan tempat beraktifitas, Miftah Farid Widagdo bersama kawan-kawannya kemudian mencari lokasi yang dirasa cocok. Setelah survey di beberapa tempat, ia memilih untuk menggunakan lantai dua Pasar Pucangsawit yang dikelola Dinas Pengelola Pasar (DPP) untuk berkegiatan. Pertimbangannya, lantai dua tersebut memang sudah lama tidak terpakai.

“Jadi kayak tumbu entuk tutup. Kita pas butuh tempat, ndilalah di lantai dua Pasar Pucangsawit ada yang nggak terpakai,” ucap Miftah kepada TimloMagz.

Sejak diresmikan 21 November tahun lalu, sudah banyak kegiatan yang diselenggarakan di Cangwit Creative Space. Mulai dari diskusi film, pameran fotografi, sampai stand up comedy lengkap dengan open mic-nya pernah digelar di lantai dua pasar tradisional itu. Meski tidak rutin, berbagai aktifitas tersebut cukup sering ditemui di Cangwit Creative Space.

“Inti kegiatan kita memang aktivitas ekonomi teman-teman yang berjualan di sana,” kata dia.

Terdapat setidaknya 20-an stand yang mencual pernak-pernik lucu hasil buah tangan teman-teman Miftah. Ada yang menjual tote bag, kain lukis, sampai permainan tradisional khas 90-an tersedia di sana. Sebelum menempati los tenant diseleksi terlebih dahulu untuk menghindari kesamaan produk.

“Untuk kegiatan-kegiatan yang lain seperti konser musik, pemutaran film, dan lain-lain, kita memang membuka diri. Siapa pun yang mau memakai kami persilakan. Gratis,” tuturnya.

Meski telah lama berjalan, Miftah mengaku kesulitan mempromosikan Cangwit Creative Space. Selain lokasinya yang di pinggir kota, banyak orang yang mengira Pasar Pucangsawit sudah lama mati tak berpenghuni. Promosi dari Pemkot, khususnya Dinas Pariwisata dirasa kurang nendang karena masih banyak yang belum mengenal pasar yang sejarahnya dulu sempat menjadi sentra buah-buahan itu.

“Promosi dari Pemkot masih sangat kurang. Orang Solo sendiri banyak yang belum tahu kalau di Pucangsawit ada pasar. Padahal potensinya sangat besar apalagi di sekitar sini ada destinasi wisata kuliner,” kata dia.

Pakem Galery, Workshop & Coworking Space

Lain halnya dengan Cangwit yang berawal dari sejumlah pemuda yang mencari tempat berkegiatan, Pakem justru berangkat dari keprihatinan atas mangkraknya lantai dua di pasar-pasar tradisional. Renovasi pasar tradisional dengan desain dua lantai memang kerap menyisakan masalah sepinya lantai dua.

Embrio Pakem sendiri sebenarnya sudah terbentuk sejak tahun 2014. Namun karena berbagai hal, tongkrongan di lantai dua Pasar Kembang itu baru bisa terealisasi awal 2016.

Ide membuat Pakem digawangi oleh enam orang; Farid Muttaqin, Sadrah Sumariyarso, Budi Prajitno, Ginda Ferachtiawan, Yayok Aryoseno, Anton Gultom Rosanto, medio 2014. Setelah berdiskusi dengan DPP, muncullah beberapa opsi tempat di Pasar Gede, Pasar Ayu, Pasar Kembang, Pasar Pucangsawit (waktu itu belum ditempati Cangwit Creative Space), serta Panggungrejo.

“Pilihan jatuh ke Pasar Kembang dengan pertimbangan lokasinya di tengah kota, luasannya pas untuk pilot project,” kata Budy Prajitno.

Menurut Budi, Konsep Pakem dibuat bersama-sama dengan beberapa komunitas. Setelah brainstorming dengan sejumlah komunitas di Solo, diputuskanlah Pakem sebagai Galery, Workshop and Coworking Space. Konsep siap. Pakem pun dijadwalkan buka awal 2015. Namun karena rencana tersebut harus mundur lantaran DPP berencana merenovasi Pasar Kembang agar lebih sesuai dengan kebutuhan Pakem sebagai pasar seni. Tangga akses ke lantai dua yang tadinya di dalam pasar dipindah ke depan langsung berhadapan dengan lahan parkir.

“Dari DPP menawarkan renovasi itu. Tapi selebihnya, seperti pemasangan instalasi listrik, perabot dan perlengkapan lainnya, kita biayai sendiri,” tambah Budi.

Lantai dua yang tadinya mangkrak tak digunakan, kini hidup dengan kegiatan dari berbagai komunitas dari berbagai daerah. Mulai dari jazz jam session setiap Kamis, sampai workshop-workshop dengan pelbagai tema menarik.

Kegiatan yang digelar pun sangat beragam mulai dari pelatihan branding, diskusi tentang museum, sampai mengupas sejarah Solo nan kaya dengan kisah-kisah nostalgia.

Di samping mewadahi kegiatan komunitas, Pakem juga merangkap sebagai galery untuk sejumlah pengrajin di Solo. Di sana, kita bisa dapati buah karya perupa Solo yang unik. Sebagian merupakan hasil daur ulang dari barang-barang yang sudah tak terpakai.

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge