0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

TimloMagz

Yoes Brushead, Padukan Tato dengan Seni Mengecat

foto: David
Yoes Brushead, Padukan Tato dengan Seni Mengecat (foto: David)

Timlo.net – Dunia otomotif terus berkembang dari waktu ke waktu. Tak hanya mengandalkan struktur baja sebagai bahan pembentuk mobil semata, melainkan telah melesat menjadi bentuk sentuhan seni yang berpadu.

Persaingan untuk mendapatkan ‘prestige’ antarmodifikator mobil dalam menampilkan keindahan body pengecatan juga makin ketat. Sehingga menghadirkan karya yang ‘jempolan’ dan sedap dipandang mata.

Yosafat Anggoro, seniman tato yang mahir dibidang pengecatan ini menorehkan sentuhan seni pada mobil-mobil klas modifikasi. Yos, sapaan akrabnya melihat peluang di bidang pengecatan sekitar tahun 2002 silam.

Dirinya nekat terjun ke dunia pengecatan setelah merasa bakatnya dibidang tato dipandang sebelah mata oleh banyak orang. Meski begitu, pria kelahiran 34 tahun silam ini tidak serta merta langsung menjadi mahir.

Banyak pelajaran yang dia serap sebelum menjadi terampil dan terkenal seperti sekarang ini.
Pemilik bengkel di Kampung Suronandan RT.03/RW.02, No.10C, Kecamatan grogol, Kabupaten Sukoharjo ini banyak diakui pengenggemar modifikator sebagai salah seniman di bidang pengecatan kendaraan.

Melalui sentuhan tangan seninya, beragam modifikasi kendaraan banyak yang memenangi lomba baik tingkat nasional hingga mancanegara.

“Bakat saya sebenarnya lukis tato. Dulu hanya modal nekat. Tapi saat itu kondisi gak memungkinkan jadi mau gak mau sedikit banting setir ngecat kendaraan. Malah jadinya keterusan seperti ini,” terang pria ramah tersebut.

Dalam melakukan pengecatan, Yoes menguasai beragam teknik. Mulai dari realis, grafis, animasi hingga teknik water printing. Kelebihan dari garapan Yoes berada pada hasil akhir yang nampak terlihat halus dan ada kesan basah serta mengkilap.

Untuk mendapatkan hasil maksimal, pemilik bengkel “Yoes Brushead” ini mengaku tidaklah segampang membalik telapak tangan. Butuh persiapan konsep sekaligus penyelarasan ide antara pemilik kendaraan dengan dirinya. Bahkan tak jarang, apa yang mulai dia kerjakan terkadang bertentangan dengan pemilik kendaraan itu sendiri.

“Dalam melakukan pengecatan, konsep awal harus matang. Jangan sampai, setelah mulai dikerjakan justru pemilik menginginkan yang lain,” terangnya.

Bidang yang dia geluti saat ini, bukanlah seperti pekerjaan pada umumnya. Selain membutuhkan teknik di bidang pengecatan juga membutuhkan sense atau cita rasa dalam padu padan warna.

Tak jarang, setelah hasil akhir tersaji justru tidak sesuai dengan perpaduan warna yang dihasilkan. Termasuk grafis yang ditempelkan dalam kendaraan tersebut. Maka dari itu, Yoes berpesan, supaya lebih mengasah sense perpaduan grafis maupun warna sebelum benar-benar membuat sebuah karya untuk menghiasi kendaraan yang dimodifikasi.

“Mengecat itu ibarat satu langkah. Jika langkah awal telah salah, maka hasil akhirnya juga tidak akan maksimal. Dibidang ini, sense lebih diutamakan dalam menilai sebuah hasil akhir,” terangnya.

Berawal dari Sepeda BMX Mini

Tahun 2002, menjadi momentum awal Yosafat Anggoro menekuni dunia pengecatan. Waktu itu, dirinya mencoba untuk mengecat sebuah sepeda BMX dengan menggunakan peralatan seadanya. Berbekal sebuah pompa manual dan kaleng cat semprot, ternyata hasil akhirnya pengecatan “coba-coba” itu tak bisa dibilang buruk. Hingga akhirnya, ia tertantang untuk menerapkan pada kendaraan bermotor.

Meski karyanya sudah malang melintang di dunia kontes modifikasi, ternyata itu tak membuatnya jumawa dan pilih-pilih dalam mengerjakan pengecatan. Yoes, tetap dikenal low profile oleh orang-orang yang mengenalnya. Tak jarang, kebanyakan rekan-rekannya meminta tolong untuk mengecat sepeda motor jenis scooter, helm, dan hal-hal sepele lainnya. Bahkan, dia terkadang dimintai tolong untuk mengecat sepeda angin milik tetangganya.

“Apa saja, selama saya bisa tetap diayahi (dikerjakan-red). Mengingat, saya seperti sekarang ini juga karena mereka,” kata Yoes.

Karya Yoes telah menggema hingga ke negeri Jiran, Malaysia. Tahun 2013 lalu, dirinya mengikuti “Custom Culture” yang digelar di negeri seberang. Dengan mengusung tema Garuda Hipercrea pada yang diterapkan pada sepeda motor jenis Honda Tiger, ia berhasil menyabet peringkat pertama dalam ajang bergengsi internasional tersebut.

“Semua berkat dukungan keluarga, teman dan orang-orang yang senantiasa memberi saya semangat. Tanpa mereka, saya bukanlah apa-apa,” kata Yoes merendah.

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge