0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

TimloMagz

Sari Puspita Dewi, Muda Cantik dan Pebisnis Sukses

foto: David
Sari Puspita Dewi (foto: David)

Timlo.net – Perempuan modern, pasti tidak puas hanya bermodalkan paras cantik dan kemampuan bersolek. Sari Puspita Dewi, membuktikan dia juga punya kelebihan lain. Di usia yang terbilang masih muda, Sari adalah pemilik sejumlah usaha produk kecantikan, kuliner dan kain tenun yang tersebar di banyak kota di Indonesia.

Tak hanya sukses sebagai entreprenuer muda, Sari yang lahir pada tahun 1982, berhasil memboyong gelar Magister Managemen dari Universitas Muhamadiyah Surakarta (UMS) pada 2009 atas hasil kerja keras dan biaya sendiri.

Saat ditemui TimloMagz belum lama ini, Sari mengisahkan, darah pebisnis yang diwarisi dari orangtuanya, sudah dimilikinya sejak usia kanak-kanak.

“Waktu kecil dulu, saya sering dibelikan majalah anak-anak oleh orangtua. Karena waktu itu, teman seangkatan banyak yang tetarik untuk meminjam, akhirnya jika mereka ingin bawa pulang saya mintain uang sebagai jasa sewa, jadi saat SD pun sudah bisa mencari tambahan uang saku,” ujarnya.

Pengalaman bisnis lainnya juga pernah ia lakukan saat kuliah S1 di Universitas Sebelas Maret. Waktu itu, dia ditawari oleh salah satu event organizer untuk menjadi sales promotion girl (SPG). Karena yang dibutuhkan lebih dari satu orang, akhirnya ia juga diminta untuk mencarikan teman lainnya untuk bisa membantu. Dari situ, akhirnya ia mendapat peluang bisnis baru dengan menjadi agen penyedia SPG bagi siapa saja yang membutuhkan.

“Karena waktu itu banyak teman-teman saya yang cantik dan butuh uang saku tambahan. Sehingga saat mendapat penawaran untuk mencarikan SPG itu, saya manfaatkan sebagai peluang bisnis baru, yaitu menjadi agen penyedia SPG. Setiap satu SPG, saya dapat untung sekitar 5 persen,” terangnya.

Setelah lulus kuliah S1 UNS pada 2004, Sari pernah mencicipi pahit getirnya hidup saat menjadi karyawan di perusahaan. Mulai jadi supervisor sebuah restoran hingga menjabat sebagai Branch Manager dalam perusahaan distributor produk kecantikan.

Sari mengaku, saat bekerja di perusahan distributor tersebut banyak pengalaman yang bisa didapatkan, seperti belajar strategi pemasaran produk dan upayanya bertahan saat berada dalam tekanan perusahaan.

“Sekitar satu setengah tahun saya menjabat sebagai Branch Manager di perusahaan distributor produk kecantikan, Jayawinata. Alasan saya keluar, salah satunya karena beban kerja dengan bayaran yang didapat tidak sebanding,” terangnya.

Setelah itu, ia juga sempat bekerja di Larisa. Saat itu posisinya sebagai Vice Branch Manager. Selama bekerja di sana banyak tanggung jawab yang harus diembannya, mulai dari urusan operasional, manajemen dan pemasaran. Kurang lebih satu ia tahun bekerja di sana, sebelum kemudian memutuskan pindah ke perusahaan lain.

Selain itu Sari juga pernah menjabat sebagai Deputi Manager di perusahaan kecantikan Miracle Aesthetic Clinic. Namun karena alasan yang sama menjadikan ia tidak betah dan memutuskan untuk keluar.

Berangkat dari pengalaman itu, akhirnya ia memutuskan untuk fokus berwirausaha. Bisnis pertama yang ia rintis adalah memasarkan produk kain tenun palembang di Bali. Karena banyak yang berminat, sedikit demi sedikit ia berhasil menyisihkan uang untuk modal.

Ekpansi usaha yang berhasil ia kembangkan di antaranya produk kecantikan yang diberi nama The Queen Skin Care dan restoran dengan brand Soerabaia Coffe and Culinarry di Palembang.

Di sela-sela kesibukannya menjalankan usaha, pemenang karya tulis terbaik putri Solo 2003 ini juga tak jarang menyempatkan waktu untuk menyalurkan hobinya menulis cerita pendek (cerpen). Bahkan beberapa karya sastranya sering dimuat dihalaman media masa.

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge