0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

TimloMagz

Digempur Zaman, Bisnis Alat Permainan Edukatif Tetap Menggiurkan

foto: Aditya
Sentra pengrajin alat permainan edukatif (APE). (foto: Aditya)

Timlo.net – Deretan kuda berjejer rapi di tepi Jalan Raya Pedan-Cawas. Bukan kuda biasa, namun mainan kuda yang terbuat dari bahan kayu. Pemandangan mainan kuda-kudaan yang biasa disebut kuda goyang itu dapat ditemui di Dukuh Keden, Desa Jetis Wetan, Kecamatan Pedan, Klaten yang dikenal sebagai sentra pengrajin alat permainan edukatif (APE).

Hendra Wibisono (33) salah satunya. Saat TimloMagz mendatangi pemilik Kampoeng Creative Toys di Jalan Raya Pedan -Cawas Km 1 ini, dia terlihat sibuk mengecat mainan kuda-kudaan. Sementara dua karyawannya tengah merangkai tali tampar yang disematkan pada rangkaian besi berbentuk segitiga atau biasa disebut mainan tali panjat.

“Ini sedang mengerjakan kuda goyang pesanan dari Bantul. Karena Minggu ini harus segera dikirim,” katanya.

Menurut pria yang sudah menggeluti usaha kreatifnya selama delapan tahun ini, kuda goyang adalah salah satu mainan yang paling laris diburu pembeli. Pasalnya, pesanan tidak terbatas datang dari sekolah pendidikan anak usia dini (PAUD) maupun taman kanak-kanak (TK), tapi juga orangtua untuk diberikan kepada anaknya sebagai hadiah.

Cara pembuatannya sederhana. Berbahan gelondongan kayu munggur yang dibuat triplek, lalu dipotong dengan gergaji sesuai alur pola. Setelah itu dihaluskan dengan pisau dan amplas, diberi plamir. Tahap terakhir mengecat, melukis organ joki dan kuda serta merangkainya di penyangga lalu kuda bergoyang alami seperti gerakan saat menunggang kuda.

“Kalau orderan partai besar biasanya mengajak sesama perajin. Pembuatannya makan waktu sekitar satu hingga dua pekan untuk jumlah 30 kuda karena kendala cuaca yang akhir-akhir ini diguyur hujan. Sedangkan harga jualnya dari kami sekitar Rp 75 ribu, tetapi kalau sudah sampai Solo atau daerah lain bisa sampai Rp 100 ribu lebih,” ujarnya.

Tidak hanya mainan kuda goyang, ayah tiga orang putra ini juga memiliki sekitar 400 item mainan edukatif, baik indoor maupun outdoor. Mulai dari puzzle berupa potongan kayu yang dibentuk menyerupai hewan, binatang, buah, alat transportasi, maket tempat ibadah, peraturan lalu lintas, hingga berbagai jungkat-jungkit berbahan besi yang digunakan di luar ruangan.

“Satu kampung rata-rata model mainannya hampir sama. Yang membedakan material yang dipakai dan kualitasnya. Namun itu semua tergantung harganya. Paling murah ya puzzle seharga Rp 15 ribu. Kalau yang termahal mainan playground mulai dari Rp 8-10 juta, tergantung materialnya,” beber sarjana hukum asal Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini.

Meski digempur alat permainan modern berbahan plastik dari negeri Cina, prospek industri mainan edukatif anak-anak justru mengalami pertumbuhan. Apa pun kurikulum pendidikannya, mainan alat peraga ini sangat dibutuhkan untuk menyampaikan pelajaran. Hal itulah yang mendorong suami dari Yuni Astuti (33) ini untuk serius menekuni bisnis yang diwariskan kakeknya itu sejak tahun 2008.

“Awalnya saya hanya bantu CV teman yang dapat orderan dari Kabupaten Gunung Kidul dan Blora. Tapi setelah gempa Yogya 2006 mulai banyak infrastruktur sekolah yang rusak menerima bantuan dari berbagai lembaga kemanusiaan. Dari situlah saya mulai serius menekuni usaha ini karena semakin pesat permintaannya. Daripada dimanfaatkan CV di luar. Mereka lelang barangnya tapi ambilnya disini,” ucap Hendra.

Sejauh ini Hendra memang tidak menjual sendiri barang dagangannya. Ia memiliki 15 reseller online shop yang aktif memberikan order per bulan. Mereka tersebar di Kediri, Surabaya, Jogja, Solo, Bandung, Jakarta, Medan, Kalimantan, dan Riau. Ia pun membebaskan resellernya untuk membuat harga jual sendiri. Namun bila ada order, biaya pengiriman ditanggung oleh si reseller.

“Kalau dulu pemasarannya susah. Datang ke Kalimantan bawa barang memang habis, tapi ketika ada orderan harus pulang dulu untuk membuatnya. Makan waktu. Sekarang penjualan online shop juga banyak,” papar Hendra yang mengaku mengantongi pendapatan kotor per bulan hingga Rp 20 juta.

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge