0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Penerbitan KIA Bikin Was-Was Pemkab

Kepala Disdukcapil Wonogiri, Sungkono (dok.timlo.net/tarmuji)

Wonogiri — Pemkab Wonogiri merupakan salah satu dari 50 kota/ kabupaten yang menjadi pilot project Kartu Identitas Anak (KIA). Akan tetapi dalam menindaklanjuti program ini, Pemkab Wonogiri was-was, terkait anggaran yang timbul dari penerbitan kartu untuk anak itu.

“Saya harap pemerintah itu nantinya konsekuen dengan adanya Permendagri nomor 2 tahun 2016 tentang KIA,” ungkap Kepala Disdukcapil Wonogiri Sungkono, Kamis (30/6).

Menurutnya, jika penerbitan KIA prosedurnya sama dengan e-KTP maka biaya yang akan ditimbulkan sangat tinggi. Berkaca pengalaman penerbitan e-KTP selama ini, semua biaya ditanggung pemerintah pusat.

“Yang paling mahal itu biaya pembelian tinta ribon, dimana di Wonogiri sendiri sekitar 83 persen anak sudah memiliki akte kelahiran otomatis mereka sudah berhak mendapat KIA. Sedang anak yang yang berhak memiliki KIA dengan usia anak mulai 0-17 tahun,” ujarnya.

Dia menyebut, estimasi biaya pembelian ribon saat ini sekitar Rp 4 juta perpaket, dapat dipergunakan untuk mencetak sekitar 500 kartu KIA. Sementara di Wonogiri ada sekitar 300-an ribu anak, maka dibutuhkan sekitar  700-an ribon. Maka diperkirakan akan menelan dana sekitar Rp 2,8 miliar.

“Ini saya yang menjadi sedikit ragu-ragu, kalau anggaran ini dibebankan kepada APBD Wonogiri apa jadinya, jelas kita tidak mampu. Malah menjadi beban kita, padahal kisruh e-KTP saja belum selesai se-Indonesia ini,” katanya.

Ditambahkan, sambil menunggu anggaran keluar, Disdukcapil akan melakukan sosialisasi kemasyarakatan Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 2 tahun 2016 tentang KIA.

“Sosialisasi bertujuan mendorong masyarakat agar menggurus akta kelahiran anak, karena setiap  yang menggurus KIA terlebih dulu wajib mengantongi akta kelahiran,” tandasnya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge