0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Menderita Leptospirosis, Buruh Batu Bata Ini Butuh Uluran Tangan

dok.timlo.net/aditya wijaya
Sriyanto, penderita Leptospirosis terbaring tidur (dok.timlo.net/aditya wijaya)

Klaten — Hampir satu bulan, Sriyanto (42) warga Dukuh Kopek, Desa Mranggen, Kecamatan Jatinom, Klaten terbaring sakit di rumah. Ayah dari empat orang anak ini menderita Leptospirosis atau penyakit kencing tikus.

“Sudah pernah mondok di rumah sakit. Tapi sudah hampir satu bulan pulang di rumah enggak bisa beraktivitas. Hanya tiduran di kasur,” kata sang istri, Kusmiyatun, Senin (27/6).

Diceritakan, suaminya sehari-hari mencari rezeki sebagai buruh pembuat batu bata. Disinyalir, Sriyanto terserang penyakit leptospirosis lantaran tidak menggunakan alat pelindung diri seperti sepatu bot dan sarung tangan saat beraktivitas. Sebab, area persawahan salah satu habitat populasi tikus dan rawan menyebarkan bakteri lestospira. Sehingga saat cuci tangan dan kaki menggunakan air sawah tanpa sadar bercampur dengan bakteri.

Akhir Mei lalu, suaminya mengalami demam, nyeri otot, mual dan mata menguning selama beberapa hari. Setelah dilarikan ke Pukesmas Kayumas, Sriyanto dirujuk ke RS Soeradji Tirtonego (RSST) Klaten dan masuk ruang UGD.

Setelah dirawat 17 hari, berdasarkan hasil laboratorium keadaannya mulai membaik dan diperbolehkan pulang. Namun di rumah kondisi Sriyanto justru kembali memburuk. Karena keterbatasan biaya, Kusmiyatun berharap agar ada kepedulian dari pemerintah maupun pihak lain untuk membantu berobat ke rumah sakit yang lebih besar.

“Saya inginnya suami bisa kembali sehat. Bisa bekerja lagi. Karena dia tulang punggung keluarga,” ucap Kusmiyatun

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge