0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Apa Saja Dampak Keputusan Inggris Meninggalkan Uni Eropa?

Referendum UE. (Dok: Timlo.net/ Google.)

Timlo.net—Dalam Europe Union Referendum yang diadakan Pemerintah United Kingdom (UK) pada 23 Juni 2016, sebanyak 51,9 persen warga Inggris memilih supaya pemerintah mereka meninggalkan Uni Eropa. Walaupun pilihan belum dilaksanakan oleh Pemerintah Inggris, keputusan ini akan membawa dampak tidak hanya bagi negara itu tapi juga bagi negara-negara lainnya.

Voting bisa gulingkan pemerintah Inggris

Perdana Menteri Inggris David Cameron pernah bersumpah untuk mengadakan referendum untuk meninggalkan Uni Eropa (UE) jika partainya menang dalam pemilihan 2015. Partainya menang dalam pemilihan itu, tapi dia berkampanye dengan aktif supaya masyarakat memilih untuk tetap menjadi bagian UE.

Kemenangan hasil voting ini bisa memperlemah posisi Cameron di dalam partainya sendiri. Pemberontakan di dalam partai bisa menggulingkan pemerintahannya. Hal ini bisa menyebabkan partai konservatif untuk dipimpin oleh perdana menteri yang skeptik dengan UE atau menimbulkan digelarkan pemilihan baru.

Voting pengaruhi kondisi ekonomi Inggris

Banyak ahli ekonomi memperkirakan jika pasar saham dan nilai pound sterling untuk Jumat (24/6) pagi waktu setempat akan melemah. Jika pemerintahan Cameron jatuh, peluang Inggris untuk bernegosiasi ulang dengan UE bisa melemah. UE bisa memilih mempersulit negosiasi ekonomi sebagai peringatan untuk negara-negara lain yang ingin meninggalkan mereka. Kondisi ini bisa menimbulkan dampak serius untuk bisnis-bisnis yang ada di Inggris.

“Jika Anda Nissan atau produsen mobil lain yang memiliki produksi besar di UK, dengan standard keamanan dan lingkungan yang berlaku saat ini, Anda bisa menjual mobil di manapun di pasar Eropa,” kata Jacob Funk Kirkegaard, seorang ahli ekonomi di the Peterson Institute for International Economics.

Jika Inggris meninggalkan UE maka produsen mobil tidak bisa lagi menjual mobil dengan bebas di pasar Eropa karena standard keamanannya akan berbeda. Sang produsen mobil bisa diminta untuk membuat standar keamanan yang berbeda-beda di pasar Eropa.

Para ahli memperkirakan terjadinya penurunan ekonomi di Inggris antara 3,8 hingga 7,5% pada 2030 jika mereka keluar UE. Penurunan ini akan tergantung pada kemampuan negara itu bernegosiasi dengan pasar Eropa.

Voting menyebabkan ketidakpastian dalam hukum migrasi

Salah satu manfaat dari UE yang paling penting dan kontroversial adalah adanya kebebasan bergerak bagi warga yang tinggi di negara-negara UE. Seorang warga negara anggota UE bisa bekerja dan tinggal di manapun di kawasan UE. Aturan ini dimanfaatkan oleh para warga Inggris dan warga asing.

Ada sekitar 1,2 juta warga Inggris tinggal di kawasan UE lainnya, sementara di Inggris ada 3 juta warga non Inggris. Jika Inggris keluar dari UE maka kondisi ini akan berubah. Seandainya Inggris mampu bernegosiasi soal aturan ini, maka masalah yang ada bisa dikurangi. Tapi di Inggris ada penolakan terhadap kehadiran para imigran terutama dari negara-negara yang miskin seperti Polandia dan Lithuania. Warga Inggris mendesak pemerintah mereka untuk tidak lagi menerapkan aturan imigrasi ini.

Konsekuensi yang mungkin timbul adalah masyarakat yang akan pindah dari atau ke Inggris harus mengurus paspor dan izin tinggal. Dan hal itu berarti imigran yang ada di Inggris bisa kehilangan hak tinggal dan bekerja di negara itu dan dideportasi.

Perpecahan di UK

United Kingdom (UK) terdiri dari Inggris, Wales, Skotlandia dan Irlandia Utara. Kirkegaard mengatakan jika UK memilih keluar dari UE maka bisa terjadi perpecahan di dalam pemerintahan UK.

Poling menunjukkan jika Skotlandia lebih cenderung memilih tetap tinggal di UE. Dan warga Skotlandia selama ini tidak pernah puas dengan dominasi Inggris. Hal ini ditunjukkan dengan 44 persen warga Skotlandia yang memilih Skotlandia menjadi negara merdeka pada 2014. Mereka memilih UK tetap menjadi bagian UE untuk menyeimbangkan pengaruh Inggris di dalam the UK.

Jika UK tetap meninggalkan UE sekalipun Skotlandia keberatan, maka pengaruh kelompok separatis yang menguat. Hal ini bisa menyebabkan Skotlandia merdeka dan membuat petisi untuk masuk ke dalam UE.

Tapi pendukung voting UK keluar UE membantah analisis ini. Mereka melihat keinginan warga Skotlandia untuk merdeka melemah dalam dua tahun sejak voting. Hal ini karena jatuhnya harga minyak yang mengurangi nilai ladang minyak lepas pantai di negara itu. Ahli ekonomi Andrew Lilico menyatakan keluarnya UK dari UE bisa memperkuat loyalitas warga Skotlandia terhadap UK.

Sumber: VOX.com

Editor : Ranu Ario

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge