0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Izin Dipermudah, Pasar Wisata Yacht Terbuka Lebar

y.co
ilustrasi (y.co)

Timlo.net – Komunitas yachter, atau perahu pesiar, kini dengan mudah bisa merapat ke dermaga tanah air. Dengan kebijakan deregulasi CAIT, untuk izin masuk yacht ke perairan Indonesia dipermudah.

Selama ini mengurus izin masuk itu bisa 3 minggu, dan yacht diperlakukan sebagai barang mewah, sehingga kena pajak barang mewah yang mahal. Karena itu, tidak banyak yacht yang melaut di tanah air. Mereka memilih Singapura, Hongkong dan Australia untuk menambatkan perahunya.

“Kini izin masuk ke Indonesia cukup 3 jam sudah beres, bahkan target kami 1 jam sudah mendapatkan izin berlayar, seperti yang dilakukan di Singapore, Perth, maupun Hongkong,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya, kemarin.

Itu akan mempermudah para wisatawan bahari yang sudah tahu bahwa perairan Indonesia itu adalah surganya wisata bahari. Wisata bahari dengan perahu yacht, selama ini masih dianggap sebagai pasar yang seksi.

Potensi pemasukan devisanya sangat besar dan menantang. Dari data Kemenpar, cost belanja wisatawan yacht per hari rata-rata USD 500-USD 1.000. Dan lama singgahnya, bisa mencapai satu bulan.

“Karenanya Pak Menteri (Arief Yahya-red) menargetkan wisata yacht dapat menyumbang devisa hingga USD 600 juta sampai 2019 mendatang. Kami pun all out menggenjot promosinya di negara-negara potensial, termasuk Fiji dan Selandia Baru,” terang Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kemenpar, I Gde Pitana.

Soal ini, dia mengaku optimistis bisa mencapai target yang dipancang tadi. Maklum, Indonesia punya modal yang sangat kuat.

Sebagai negara bahari, Indonesia dihiasi lebih dari 17.000 pulau. Garis pantainya mencapai 80 ribu km. Dan Indonesia, memiliki sekitar 50.875 km2 terumbu karang.

Jumlah ini setara dengan 51 persen persen dari terumbu karang di wilayah Selatan Timur Asia dan 18 persen (284.300 km2) dari terumbu karang di dunia. Dengan potensi sedahsyat itu, Indonesia pun langsung dinobatkan menjadi jantung dari segitiga karang dunia (coral triangle).

“Modal kita sudah kuat. Dua per tiga koral dunia lengkap dengan biota yang super unik itu ada di Indonesia. Karenanya mempromosikan keindahan potensi bawah laut, pantai, dan pulau-pulau di negeri ini, sudah cukup untuk menarik para yachters Fiji dan Selandia Baru ke Indonesia. Potensi maritim kita bukan hanya istimewa, tetapi terbaik di dunia,” tambah Pitana.

Pada 2015 silam, CNN Internasional menempatkan Raja Ampat sebagai peringkat satu, lalu Labuan Bajo peringkat dua dunia untuk kategori snorkeling site dunia.

“Kami akan menangkap potensi pasar 6.000 yachts supaya bisa memutar Rp 6 triliun dari pengelolaan wisata bahari ini. Spending satu yacht itu rata-rata Rp 1 M,” urai Pitana.

Birokrasi dan perizinan yang selama ini menghambat sudah mulai dipangkas. Sekarang sudah ada Peraturan Presiden 105/2015 yang memayungi pengurusan dokumen CIQP (custom, immigration, quarantine, port) di 18 pelabuhan. Dengan terbitnya Perpres tadi, yacht bisa langsung sandar di pelabuhan-pelabuhan Indonesia dengan sistem online. Prosesnya tak lagi lama. Semua clear dalam hitungan jam.

Indonesia punya letak geografis yang sangat strategis. Indonesia ada di antara dua samudera besar. Artinya, cirvum navigasi dunia yang diperkirakan melibatkan lebih dari 10 ribu kapal, sangat tergantung dengan Indonesia.

“Itu sebabnya Indonesia harus promosi di Yachter Community Selandia Baru dan Fiji. Kita undang para yachter di sana untuk sandar ke Indonesia, nikmati beragam kekayaan bahari di Indonesia,” ungkapnya.

Editor : Ari Kristyono

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge