0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Bermodal Ketekunan, Imam Murod Jadi Miliarder

dok.timlo.net/setyo pujis
Imam Murod saat melihatkan produk BioJANNA (dok.timlo.net/setyo pujis)

Solo — Dibesarkan dalam keluarga miskin, tidak menjadikan Imam Murod minder dan putus asa. Justru belajar dari kondisi yang serba kekurangan itulah, pria kelahiran 1976 ini berhasil menjadi miliarder dari hasil kerja keras dan ketekunannya dalam berwirausaha.

Direktur Marketing BioJANNA ini mengaku sejak kecil hidup penuh dalam kesusahan. Karena orang tua yang hanya berprofesi sebagai seorang tukang tambal ban, tidak bisa membuatnya hidup serba kecukupan layaknya teman sebayanya.

“Bahkan karena orang tua tidak sanggup memberikan uang saku, setiap berangkat sekolah biasanya saya hanya dikasih tape agar tidak jajan,” ujar bapak tiga anak ini kepada Timlo.net, baru-baru ini.

Selain hanya diberikan bekal tape, setiap ibunya menggoreng telur dadar harus dibagi menjadi enam bagian. Hal itu dilakukan agar lauk yang disajikan bisa merata dengan keenam saudaranya yang lain.

Kenangan pahit lainnya yang tidak bisa dilupakan Imam adalah saat meminta sepeda federal kepada bapaknya. Karena orang tua tidak punya cukup uang untuk membelikan sepeda baru yang diinginkan, bapaknya rela menabung hingga tiga tahun. Itupun bisa membelinya dengan cara terpisah. Misalnya bulan pertama saat ada uang dibelikan sedel (tempat duduk), bulan depannya stang, kerangka sepeda, ban dan seterusnya. Hingga tahun ketiga baru lengkap.

“Meskipun setelah lengkap, akhirnya saya pun juga enggan memakainya. Saya malu karena bentuk sepedanya tidak karuan. Masak sepeda federal cuma stangnya saja yang mirip. Kerangkanya itu jengki dan parahnya dikasih keranjang,” ungkapnya, sambil tersenyum mengenang sosok bapaknya yang sudah almarhum.

Namun meski serba kekurangan, ia tetap merasa sangat bersyukur dengan cara mendidik dan kasih sayang yang diberikan oleh orang tuanya. Salah satu hal mendasar yang diajarkan oleh orang tuanya adalah soal ketakwaan dalam beribadah dan bersedekah.

“Secara materi memang kekurangan, tapi kalau soal spiritual keimanan, orang tua saya sangat luar biasa. Bahkan ibu saya, saat menjelang sakaratul maut, yang dingat bukan anak dan kesehatan, melainkan bersedekah,” jelasnya.

Setelah lulus SMA, Imam mengaku sempat bekerja serabutan. Mulai kerja di percetakan, pendakwah, karyawan perusahaan dan lainnya. Hingga akhirnya sekitar 2004, ia mendapatkan tawaran dari seoarang teman untuk ikut dalam bisnis Multi Level Marketing (MLM).

Meskipun tidak sedikit orang yang gagal dan pesimis dalam melihat prospek bisnis tersebut, namun dirinya tetap berkeyakinan jika segala sesuatu dikerjakan secara serius dan penuh semangat akan menghasilkan hal yang positif. Terlebih dengan alasan ingin merubah nasib, sehingga tidak ada alasan untuk tidak mampu melakukan.

“Keyakinan saya sederhana saat masuk dibisinis MLM itu, kalau orang tua saya bekerja keras hingga puluhan tahun ia lakoni, kenapa dengan tawaran bekerja keras dua hingga hingga tiga tahun dapat merubah nasib saya tidak mampu,” katanya.

Karena kerja kerasnya di MLM itu, akhirnya sekitar hampir dua tahun berjalan dia berhasil membuktikan diri dengan meraih posisi bintang delapan. Dari posisinya itu, ia berhasil memiliki  penghasilan Rp 25 juta per bulan. Capaian yang fantastis, apalagi bagi orang yang hanya tamatan SMA, dan tidak memiliki pengalaman apa-apa sebelumnya.

Setelah sekitar lima tahun berkecimpung di bisnis MLM, akhirnya Imam memutuskan untuk berhenti, dengan alasan tidak sepakat dengan sistem bisnis yang diterapkan saat itu. Hingga akhirnya pada 2011, mulai merintis untuk menggeluti bisnis baru, yaitu obat herbal yang sekarang eksis dengan sebutan nama BioJANNA.

Persinggungannya dengan obat herbal tersebut adalah saat dirinya membutuhkan obat untuk istrinya yang sedang mengalami pendarahan. Obat herbal yang berasal dari fragmentasi air kelapa itu, dikasih oleh temannya, atas rekomendasi dari tim riset.  Setelah dikonsumsi sekitar dua minggu, ternyata hasilnya sangat positif karena istrinya berangsur sembuh.

“Saat itu juga, saya berkeyakinan bahwa obat herbal ini sangat luar biasa khasiatnya. Karena saya punya pengalaman dalam bidang marketing, akhirnya saya ingin untuk mengembangkannya,” ujar dia.

Saat itu juga, ia mulai memasarkan produk tersebut kekampung-kampung secara door to door. Mulai dari tempat arisan, PKK dan sekolah-sekolah tak jarang ia kunjungi.Bahkan setelah empat bulan dipasarkan, ia mengaku tak ada satu pun yang niat membeli. Meski demikian usaha untuk terus memasarkannya tidak pernah surut dan terus dilakukan.

“Karena saya yakin, jika masyarakat sudah tahu manfaatnya. Produk ini pasti akan banyak diburu,” ungkapnya.

Karena konsistennya dalam memasarkan, akhirnya secara bertahap produk BioJANNA mulai laku terjual dan terus booming hingga sekarang.  Kemudian karena tuntutan pasar dan factor keamanan, pada 2012 produk BioJANNA juga telah resmi didaftarkan legalitasnya.

Dari hasil kerja keras itu, kini ia sudah mulai mencicipi buah manisnya. Karena sekarang sudah memiliki pabrik dengan ratusan karyawan, termasuk 3000 agen dan 18 kantor perwakilan yang tersebar di seluruh pelosok tanah air. Bahkan saat ini asset perusahaanya tidak kurang dari Rp 100 miliar.

“Karena tingginya permintaan, dalam sebulan kita sedikitnya juga berhasil menjual sekitar 5000 karton produk BioJANNA,” jelasnya.

Tidak hanya itu, dari hasil laba yang didapat kini Imam juga sudah mulai mengembangkan sayap bisnisnya, dengan membuka berbagai usaha baru. Seperti bisnis properti, jual beli bibit, digital printing, pijat refleksi dan lainnya. Bahkan planning usaha selanjutnya yang akan dibangun adalah mendirikan rumah sakit.

Bagi Imam, semua kesuksesan yang telah diperolehnya saat ini, selain hasil kerja keras juga karena berkah dari doa kedua orang tuannya. Dalam menjalankan usaha, ada empat prinsip  yang selalu ia pegang. Yaitu NKSP: Niat yang kuat, Kesungguhan, Semangat dan Pantang Menyerah.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge