0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pemerkosa Bocah di Jatinom Perlu Direhabilitasi

dok.timlo.net/aditya wijaya
Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Klaten, Ahmad Syahkur. (dok.timlo.net/aditya wijaya)

Klaten — Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Klaten angkat bicara terkait putusan majelis hakim terhadap tujuh terdakwa kasus pemerkosaan siswi kelas VI SD di Kecamatan Jatinom. Meski salah, LPA menilai pemulihan mental para terdakwa yang masih berusia dibawah umur menjadi hal utama.

“Putusan bukan tindakan kunci. Paska putusan mau direhabilitasi (pemulihan) di mana itu yang penting,” kata Ketua LPA Klaten, Ahmad Syahkur, Senin (20/6).

Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Klaten, Jumat (17/6), menjatuhkan vonis hukuman 5 tahun 6 bulan kepada empat terdakwa SL (17), RG (17), MHN (15), dan YS (17) yang terbukti melakukan pemerkosaan secara bergilir kepada korban pada 11 Mei lalu. Selain itu, EG (17) dan RI (15), divonis hukuman 5 tahun penjara karena terbukti membantu pemerkosaan.

“Kalau melihat anak berhadapan hukum (ABH), harusnya vonis lebih rendah dari kemarin sesuai perspektif anak. Hakim bisa menafsirkan UU Perlindungan Anak dengan vonis separonya,” ujar Syahkur.

Menurut dia, daripada menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klaten, terdakwa ABH lebih baik direhab di tempat khusus seperti di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kutoarjo, Kabupaten Purworejo.

“Disana (LPKA Kutoarjo) ekses negatifnya minim. Treatment khusus anak, diberdayakan, seminggu dua kali sosialisasi dengan lingkungan luar. Diwongke (diperhatikan). Tapi kalau di Klaten (Lapas), mungkin memang ruangan khusus tapi lingkungannya campur dewasa. Karena dipenjara itu imej di masyarakat justru ‘sekolah’,” bebernya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge