0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Tak Tahan Digilir di Tempat Kerja, Buruh Pabrik Lapor Polisi

Korban J saat lapor polisi (merdeka.com)

Timlo.net – Seorang pekerja pabrik di Semarang, J (33), sudah dua tahun ini menjadi objek pelampiasan nafsu atasannya. Bahkan para teman kerjanya juga kerap memaksa minta ‘jatah’ kepada korban.

Perempuan yang bekerja di Kawasan Industri Terboyo ini mau melayani atasan lantaran di bawah ancaman pemecatan. Ada enam orang kerap melecehkan J, di antaranya atasan berinisial W, juga para rekan kerjanya AM, AS, AS, AM dan IS.

Kelakuan bejat para pelaku ternyata sudah lama dilakukan bahkan menjadi rutinitas. Tercatat, J dilecehkan para pelaku selama dua tahun atau sejak 2014 lalu.

Kondisi ini lama-lama membuat korban muak. Dia merasa tersiksa menjadi alat pelampiasan nafsu bejat. Sudah tidak terhitung berapa kali dirinya melayani atasan dan para rekan kerjanya itu.

Jengah dengan keadaan, J akhirnya menceritakan kelakuan bejat atasan dan lima rekan kerjanya kepada S, sang suami. Bukan tanpa beban berat buruh perempuan itu menceritakan pengalaman pahitnya ke suami. Bahkan J sambil bersujud minta maaf mengungkapkannya.

Mendengar cerita sang istri, S merasa tersambar petir di siang bolong. S marah besar dan tidak bisa terima bahwa selama ini istrinya dijadikan pelampiasan nafsu atasan.

“Dia bersujud di kaki saya. Menangis tersedu-sedu. Mengaku dan mau menceritakan semua kejadian itu kepada saya. Ya jelas lah! Pasti saya marah dan tidak terima,” kata S, Rabu (15/6).

S menuturkan, istrinya dipaksa melayani atasan dan sejumlah rekannya di ruangan kerja korban.

Selama bekerja, lanjut S, istrinya memang merupakan satu-satunya perempuan pada di bagian kerjanya. Awalnya, pelecehan hanya berupa sentuhan dilakukan atasan dan rekan kerja ke tubuh istrinya.

Ternyata semua pelecehan itu berlanjut. Sang istri justru jadi bulan-bulanan buat memberikan kepuasan.

“Di bagian packing, hanya istri saya yang perempuan. Awalnya menurut pengakuannya (istrinya) hanya sekedar colek-colek bagian pantat. Lalu ada yang pegang, meluk dari belakang. Sampai dipaksa melakukan itu (onani),” ujar S.

Kini kasus menimpa istri S telah dilaporkan ke ke Polrestabes Semarang. Namun, ada saja kendala untuk membela sang istri. Penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Sat Reskrim Polrestabes Semarang menolak laporan dengan alasan kurang bukti.

“Hari pertama saya datang ke Polrestabes, katanya suruh membawa saksi. Esoknya saya datang lagi membawa saksi, tapi ditolak lagi alasannya kurang bukti. Padahal saya kan sudah bawa saksi yang melihat kejadian itu,” lanjut S.

S menambahkan, penyidik PPA Polrestabes Semarang lantas memintanya melapor ke Polsek Genuk, pada 8 Juni lalu. Kemudian, laporan itu ditindaklanjuti dengan proses mediasi antara korban dengan perusahaan di Mapolsek Genuk, Selasa (14/6) lalu. Namun, pihak perusahaan hanya menghadirkan HRD, manager perusahaan sama kuasa hukum.

S berharap kasus bisa terungkap dan perusahaan memberi sanksi tegas terhadap keenam pelaku. Dia juga mendesak polisi memberikan ganjaran yang berat terhadap para pelaku.

[hhw]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge