0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

HTI Gagas Solusi Kejahatan Seksual

merdeka.com
Ilustrasi Pelecehan Seksual (merdeka.com)

Solo – Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) kota Surakarta menggelar pembahasan tentang Gagasan Solusi Tuntas Kejahatan Seksual, di Hotel Aziza, Solo, Minggu (12/6). Mereka mendiskusikan akar persoalan dan solusi kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak.

“Apa yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak masih bersifat kuratif, dan tidak menyentuh ranah preventif,” tandas Intelektual Muslimah HTI, Desy Lisnayanti, MPd kepada Timlo.net di sela-sela kegiatan diskusi.

Artinya, lanjut Desy, sejauh ini hanya diupayakan pemberatan hukuman tanpa memberikan efek jera atau tidak melakukan hal yang mampu mencegah terjadinya laju kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan. Apabila menengok negara lain seperti Perancis, hal pemberatan itu justru menambah laju semakin banyak.

“Muslimah HTI memandang bahwa aspek yang diupayakan pemerintah dengan pemberatan hukuman kurang efektif. Seperti halnya hukuman Kebiri, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menolak, dan penolakan-penolakan aktivis LSM lainnya,” jelas Desy.

Selain pemberatan hukuman, menurut Desy, sejauh ini pemerintah melalui ranah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan seperti mengeluarkan Peraturan Menteri Nomor 82 tahun 2015 tentang Pembentukan Gugus Unit Pencegahan Kekerasan Seksual terdiri dari guru, siswa dan orang tua, juga tidak efektif untuk menekan laju kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan.

Menurut Desy, kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan dipicu oleh nilai-nilai yang sudah luar biasa yang berkembang akhir-akhir ini, seperti liberalism dan kebebasan, akses media yang luar biasa dan sebagainya. Tidak sedikit yang terpola mendewakan syahwat.

“Kalau hal itu kita lawan hanya oleh institusi kecil seperti guru dan siswa serta orang tua, tidak bisa dan susah,” ujarnya.

Sementara itu, Anggota Tim Media Muslimah HTI Surakarta, Ismiyati mengemukakan, Indonesia semakin tidak aman dan tidak ramah bagi perempuan dan anak. Mereka terus diintai kejahatan seksual. Kasus-kasus kejahatan seksual terus mencuat dari berbagai daerah di Indonesia.Banyak pihak menyebut, negeri ini ada dalam kondisi darurat kekerasan seksual.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge