0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Bagi-bagi Bubur Samin, Nuansa Khas Tiap Ramadan

foto: Heru
Warga antri pembagian Bubur Samin (foto: Heru )

Solo – Suasana riuh di halaman belakang Masjid Darussalam, Kampung Jayengan, Solo. Saat itu sekitar pukul 15.00 WIB puluhan ibu-ibu tampak berdatangan sembari membawa alat makan masing-masing.

Ada yang membawa piring, mangkuk, bahkan panci kecil juga. Tampak pula beberapa anak-anak dan pemuda ikut duduk diserambi masjid. Mereka mengantri pembagian Bubur Samin, yang disediakan oleh pengurus Masjid setempat. Alat makan itu ditata berjajar diatas meja, mengelilingi sebuah panci besar.

Bubur ini dibagikan kepada masyarakat secara gratis. Siapa saja yang datang, boleh mengambil dan mencicipi hidangan khas berbuka puasa ini.

foto: Heru Murdhani

foto: Heru Murdhani

Tentunya setelah saatnya azan tanda berbuka puasa tiba. Setiap hari pengurus Masjid Darussalam mengeluarkan ongkos sebesar Rp 750 ribu untuk memasak bubur ini. Setiap harinya, panitia membuat sekitar 1.200 porsi bubur.

“Sekitar 1.000 porsi kita bagikan kepada masyarakat, dan sisanya untuk jamaah Masjid sendiri,” papar Takmir Masjid setempat, H Rosyidin, Sabtu (11/6).

Diterangkan, bahwa nama Samin berasal dari minyak Samin, yang digunakan sebagai campuran bubur ini. Bubur berbahan dasar beras, kaldu sapi, daging, sayuran, santan dan campuran minyak samin ini membutuhkan waktu sekitar 4 jam dalam proses memasak.

Prosesnya biasanya dimulai sekitar pukul 11.00 WIB dan berakhir pukul 15.00 WIB. Pertama-tama air dipanaskan hingga mendidih, setelah itu dimasukkan daging Sapi untuk membuat kaldu. Setelah kaldu siap, daging tersebut diangkat dan ditiriskan.

Kemudian kedalam air rebusan daging itu dimasukkan beras dan diaduk hingga lembut. Proses mengaduk beras ini dilakukan hingga dua jam. Sembari menunggu beras masak, daging dipotong kecil-kecil. Kemudian kembali dimasukkan kedalam panci.

foto: Heru Murdhani

foto: Heru Murdhani

Selanjutnya, sayuran yang terdiri dari Bawang Bombay, Wortel dan sayuran hijau dimasukkan kedalam adonan bubur. Setelah itu dimasukkan bumbu-bumbu dan minyak Samin.

Pembagian bubur Samin ini pertama muncul sekitar tahun 1950. Saat itu banyak pedagang perhiasan dari Martapura bermukim di kawasan ini. Saat Ramadan tiba, mereka kerap memasak bubur Samin. Kebiasaan ini ditularkan kepada anak-cucu mereka yang telah menetap di Solo selama puluhan tahun.

Sebagai teman berbuka, bubur samin biasa disantap dengan aneka lauk. Sedangkan untuk minuman, biasanya disajikan Kopi Susu untuk pelepas dahaga.

Beberapa waktu yang lalu, pemerintah kota Solo, melalui Wakil Walikota Solo, Ahmad Purnomo juga pernah datang dan mencicip bubur rakyat ini. Selain itu, karena bubur ini dimasak dengan menggunakan uang pribadi para jamaah masjid, pemerintah kota ingin menawarkan bantuan berupa dana.

“Beberapa hari lalu Pak Pur (Ahmad Purnomo-red) juga datang kemari, dan sempat menawarkan bantuan, tentu kami gembira sekali,” katanya.

Pembuatan Bubur Samin ini dilaksanakan setiap hari selama bulan Ramadan.

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge