0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Dalam Keterbatasan Fisik, Perempuan Ini Sukses Hasilkan Batik

dok.timlo.net/achmad khalik
Ayu Tri Handayani sedang mengerjakan motif batik kawung alit di rumahnya Sawahan, Ngemplak, Boyolali (dok.timlo.net/achmad khalik)

Boyolali —  Keterbatasan tak menjadi halangan bagi Ayu Tri Handayani untuk menghasilkan karya. Perempuan kelahiran Solo, 9 Februari 1991 ini memang dilahirkan dengan disabilitas yang ia sandang. Tapi, siapa yang menyangka bahwa dirinya justru sangat ahli dalam membuat batik.

Ya, berawal dari kekurangannya tersebut Ayu (sapaan akrabnya) ingin membantu ekonomi keluarganya. Namun, sangat tidak memungkinkan jika dirinya bekerja seperti orang normal pada umumnya. Hingga akhirnya, sekitar tahun 2009 atau setelah ia lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) dirinya belajar mengembangkan potensi dengan belajar merangkai kerajinan monte. Namun, dalam perjalanannya ia merasa bosan dan memilih mencoba hal baru. Inilah, yang menjadi pendorong awal Ayu bersinggungan dengan dunia batik. Hingga akhirnya, sekitar tahun 2011 awal anak kedua dari pasangan Saryono dan Triyatmi ini menekuni dunia batik.

“Pertama lihat orang mbatik kok seneng. Harganya juga lumayan, terus saya minta untuk diajari,” terang Ayu saat ditemui Timlo.net di rumahnya Sawahan, Ngemplak, Boyolali, Jumat (10/6).

Lantaran kedua tangann yang dimiliki tak sempurna, Ayu menggunakan kaki dalam menorehkan malam keatas kain putih yang dibentang. Bukan perkara mudah saat pertama kali melakukan hal tersebut. Tak jarang, kaki yang dia gunakan untuk mengambil malam terkena tetasan bahan pembuat batik tersebut. Malam yang dipanaskan diatas kompor tersebut sangatlah panas. Namun, Ayu tak ingin menyerah dan terus mempelajari teknik pembuatan batik hingga berhasil seperti sekarang ini.

“Awalnya ya sering ketetasan malam panas itu, kalau gak hasil batikan mbleber (meluber) ketetesan malam. Tapi saya gak gampang menyerah dan malah terpacu untuk makin terampil,” terang Ayu.

Untuk membuat satu kain batik ukuran 2-3 meter, putri kedua dari empat bersaudara ini membutuhkan waktu selama 2 minggu. Untuk selembar kain batik, dirinya mampu menjual seharga Rp 5 juta. Tak hanya dikawasan Solo semata, karya  yang dihasilkannya juga telah merambah kota besar di Indonesia semisal Jakarta maupun Surabaya. Tak jarang, Ayu juga mengikuti pameran batik yang diselenggarakan baik dari pemerintah maupun swasta.

“Pernah ikutan pameran di Jakata convention Center (JCC), mengikuti Gelaran Batik Nusantara (GBN), dan masih banyak lagi sih,” kata Ayu polos.

Atas capaiannya saat ini, dirinya merasa bersyukur. Meski dalam keterbatasan, ternyata tak membuat dirinya pasrah. Kerja keras dan doa senantiasa dia panjatkan untuk kesuksesan yang dia dapatkan saat ini.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge