0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Begini Pengakuan Korban Trafficking Asal NTB

dok.timlo.net/heru murdhani
Korban bersama Ketua SARI Mulyadi (tengah) dan paman korban, Sugito (dok.timlo.net/heru murdhani)

Solo — Alsa Mutmah Inna (18) dan Ria Febriani (22) dua orang yang hampir menjadi korban perdagangan manusia mengaku tak mendapatkan kekerasan selama disekap. Namun mereka tak bisa lari lantaran data-data identitas mereka ditahan oleh penyekap.

“Saya tidak diapa-apain, hanya disuruh beres-beres rumah. Tapi saya dilarang keluar rumah, takutnya saya ditanya orang. Saya hanya bawa KTP saja. Sedangkan Paspor, ijazah pendidikan, dan Kartu Keluarga masih dibawa oleh Syaif Hamdan,” ungkap Alsa, Saat jumpa pers di kantor Social Analysis and Research Institute (SARI), di Jalan Markisah IV no 6 Karangasem Solo, Kamis (9/6).

Syaif Hamdan adalah petugas lapangan dari perusahaan jasa penyalur TKI, PT Sekar Tanjung Lestari yang berkantor pusat di Jakarta. Dikatakan, korban telah berupaya menghubungi perusahaan yang bersangkutan, namun mendapatkan jawaban yang mengecewakan. Sebab keduanya tidak pernah terdaftar sebagai calon TKI yang hendak dikirim ke Singapura.

“Padahal sebelumnya saya berangkat dari rumah itu dijanjikan kerja di Singapura dengan gaji Rp 6 juta,” kata gadis asal Kecamatan Lape, Kabupaten Sumbawa, NTB tersebut.

Sementara Ketua umum SARI, Mulyadi mengatakan, korban terindikasi akan diperdagangkan. Hal ini sesuai dengan hasil investigasi yang dilakukan oleh SARI yang bekerjasama dengan Polres Karanganyar.

“Dua korban ini adalah orderan dari pemilik rumah dimana korban disekap yakni Candra lewat Syaif Hamdan dan orang orangnya. Korban agar direkrut dari Sumbawa untuk dijual ke berbagai PJTKI atau pihak lain yang penting menghasilkan uang. Indikasinya adalah korban ini dipalsukan umurnya. Di Paspor disebutkan Aisa lahir di 1 Januari 1993, padahal di akte kelahiran 1 Oktober 1997,” kata dia.

Kedua korban saat ini masih berada di kantor SARI untuk mendapatkan pendampingan. Saat ini korban belum bisa dipulangkan ke kampung halaman lantaran ketiadaan dana.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge