0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Demam Songkok Gaul, Mulai My Trip My Adventure Sampai Anak Jalanan

merdeka.com
Songkok gaul (merdeka.com)

Timlo.net – Seiring waktu, songkok alias peci atau kopiah tak hanya tampil polos. Beragam modifikasi dengan menghadirkan motif melalui teknik bordir dan lainnya dilakoni si pembuat. Tentunya buat menarik pembeli dan semakin memikat.

Bahkan, kini di Makassar sedang berkembang songkok gaul. Jenis inilah yang ramai dicari anak-anak dan remaja setempat.

Diantaranya hasil produksi songkok gaul kreasi Haji Abdul Salam Razak dari Jalan Kodingareng Nomor 23, Makassar. Saat Ramadan, kopiah kreasi pemilik usaha dijalankan turun temurun sejak 2001 ini kebanjiran pesanan. Alhasil, buat memenuhi pesanan, Haji Abdul mesti menambah jumlah pekerja hingga 30 orang. Padahal jika hari biasa, pekerjanya hanya lima hingga sepuluh orang.

Songkok kreasi Haji Abdul ini laris karena dianggap unik. Dia memberi label pada songkok buatannya itu sesuai tren digandrungi konsumen, khususnya golongan anak-anak dan remaja.

Kalau pada umumnya songkok atau peci itu hitam polos berbahan beludru, atau yang sedikit ada tambahan nuansa batik, Haji Abdul Salam membikin variasi dengan menambahkan motif lain. Bisa berupa kata-kata dan slogan digemari anak muda.

Contohnya, karena saat ini sedang bergulir kompetisi Piala Eropa, maka dibuatlah songkok bermotif bendera negara-negara berlaga dalam kejuaraan bola empat tahunan itu. Seperti Italia, Prancis, Belanda, Jerman.

Lalu, lantaran anak-anak muda gandrung terhadap sebuah acara di televisi swasta bernuasa petualangan, maka dibuatlah songkok gaul bertuliskan, ‘My Trip My Adventure.’ Bahkan, motif peci itu juga mengambil sebuah judul sinetron, Anak Jalanan, lengkap dengan gambar sepeda motor.

Harganya cukup terjangkau. Satu buah peci gaul itu dibanderol Rp 16 ribu hingga Rp 100 ribu. Harga termahal khusus songkok hitam polos dan yang bermotif batik.

“Kalau kita tidak pandai-pandai membaca kecenderungan konsumen, maka usaha akan kandas. Mungkin karena terus berkreasi mengikuti perkembangan tren membuat usaha yang dirintis kakek saya, Haji Saleh, lalu turun ke Haji Abdul Razak, ayah saya, dan lalu ke saya, tetap bertahan hingga 15 tahun saat ini,” kata Haji Abdul Salam.

Ditambahkan Haji Abdul, promosi pemasaran songkok gaul buatannya juga mengikuti perkembangan zaman. Yakni ditawarkan melalui media sosial Facebook, dan BlackBerry Messenger. Karena itu, wilayah pemasaran peci bikinannya menjangkau hingga seluruh Sulawesi dan Malaysia.

“Jika hari biasa memproduksi seratus songkok saja, di bulan Ramadan sampai 500 songkok. Cukup kewalahan melayani permintaan. Hari ini baru saja kita kirim 450 songkok ke Kabupaten Takalar. Dan hari ini juga saya terima telepon, pemesan sampai marah-marah karena dianggap orderannya tidak kita perhatikan,” jelas Haji Abdul.

[ary]

Sumber: merdeka.com

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

KEMBALI KE ATAS badge