0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Menengok Keunikan Jam Matahari di Halaman Masjid Agung

dok.timlo.net/achmad khalik
Abdul Basir menunjukkan jam matahari yang ada di halaman Masjid Agung Solo (dok.timlo.net/achmad khalik)

Solo — Memasuki halaman Masjid Agung Solo pasti dibuat terkesima dengan keindahan bangunan nan eksotik. Masjid yang dibangun pada tahun 1763 oleh Pakubuwono III ini menjadi pusat penyebaran syiar islam di Kota Solo.

Namun, nampaknya banyak di antara masyarakat yang merasa penasaran dengan sebuah benda yang terletak di sisi selatan Masjid Agung. Jika digambarkan, tinggi benda ini sekitar satu meter. Di bagian atasnya terdapat cekungan setengah lingkaran yang dilindungi dengan kaca. Di tengah cekungan, terdapat jarum penunjuk berbahan kuningan. Terdapat beberapa garis dan angka di permukaan kuningan itu. Di samping cekungan, terdapat sebuah logam batang berdiri menunjuk ke atas. Disorot oleh sinar matahari, bayangan logam tersebut menunjuk ke angka dan garis tertentu.

Ya, benda ini dinamakan sebagai jam istiwak atau jam matahari. Fungsinya, untuk menunjukkan waktu salat dijaman lalu sebelum adanya jam modern saat ini. Meski terlihat kuno, namun jangan mengira sudah tidak berfungsi. Justru presisitas dari jam istiwak yang berada di halaman Masjid Agung ini tak kalah dengan jam modern meski usianya sudah ratusan tahun.

“Ini biasanya digunakan untuk menunjukkan waktu salat, pada masa lampau,” terang Sekretaris Takmir Masjid Agung Solo, Abdul Basir kepada Timlo.net, baru-baru ini.

Dalam menggunakan jam matahari ini tidak terlampau sulit. Abdul menjelaskan, dalam cekungan terdapat angka mulai dari 1 hingga 12. Bayangan dari logam kuningan itu, nantinya akan menunjukkan angka saat terkena sinar matahari.

“Patokannya pada bayangan logam kuningan yang jatuh pada angka di atas lengkungan. Itu menandakan waktu atau jam yang dikehendaki,” jelas Abdul.

Tak jarang seorang muadzin yang hendak mengumandangkan adzan akan melongok ke jam istiwak yang ada dihalaman masjid. Supaya, keabsahan mengumandangkan adzan tersebut benar-benar terjaga.

“Saat ini juga kadang masih digunakan,” katanya.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge