0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Mengenal Ki Ageng Henis, Penyebar Islam di Solo

dok.timlo.net/achmad khalik
Kompleks pemakaman Ki Ageng Henis (dok.timlo.net/achmad khalik)

Solo — Jika kita mengunjungi Kecamatan Laweyan maka tak lepas dari sosok Ki Ageng Henis. Adipati Kerajaan Pajang di masa pemerintahan Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingir tersebut merupakan anak dari Ki Ageng Sela yang masih keturunan dengan Brawijaya V raja Kerajaan Majapahit.

Timlo.net kali ini mencoba untuk mengunjungi situs pemakaman Ki Ageng Henis yang berada di Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan, Solo. Saat memasuki situs pemakaman ini, kita akan memasuki dua pintu utama berukuran tiga meter.

Pintu kayu yang telah berusia ratusan tahun tersebut memang seringkali ditutup supaya lokasi pemakaman selalu terjaga. Setelah melewati dua pintu utama, jalan setapak selebar setengah meter ditengah pemakaman akan kita jumpai membentang sekitar 20 meter menuju lokasi pemakaman sosok yang juga dikenal sebagai ulama ditahun 1546 mesehi tersebut.

Lalu sampailah di kompleks pemakaman para keluarga Keraton Pajang. Kompleks pemakaman kerabat keraton pajang ini terpisah dengan pemakaman lain. Dikelilingi tembok seukuran 1,5 meter. Dibagian utara, terdapatlah makam Ki Ageng Henis yang dibagian kiri dan kanan terdapat makam lain, yakni Makam Nyai Ageng Pati (kanan) dan Nyai Ageng Pandanarang (kiri).

“Untuk keluarga keraton Pajang, berada di kompleks ini. Memang terpisah dengan kompleks pemakaman lain yang juga didaerah ini,” terang juru kunci makam Ki Ageng Henis, Ardiyanto (71) kepada Timlo.net, Rabu (8/6).

Menurut Ardiyanto, banyak warga Laweyan yang menziarahi makam Ki Ageng Henis. Tak hanya sebelum Bulan Ramadan saja, melainkan di bulan lain pasti terdapat warga yang menyambangi ke pemakaman tersebut.

“Ya kalau kesini itu biasanya mereka ingin ziarah. Tujuannya macem-macem, ada yang mengagumi sosok Ki Ageng Henis, ada yang ingin mendoakan dan masih banyak lainnya,” katanya.

Sepanjang perjalanan sejarah, Ki Ageng Henis memiliki jasa yang sangat besar bagi warga di Kawasan Laweyan. Dialah orang pertama di tempat tersebut yang mengajarkan agama Islam. Tak hanya itu, Ki Ageng Henis jugalah yang mengajarkan teknik membatik kepada warga Laweyan kala itu. Sehingga, mereka mampu memiliki ketrampilan membatik dan banyak yang sukses menjadi pengusaha.

“Beliau dikenal cerdas, baik dalam pendalaman ilmu agama islam dan kemasyarakatan. Sehingga, mampu menyebarkan agama Islam dikawasan Laweyan yang dulu merupakan penyebaran agama Hindu Jawa,” jelasnya.

Konon, Masji Laweyan yang juga berada di dekat kompleks pemakaman Ki Ageng Henis dahulu merupakan sebuah pura tempat ibadah umat Hindu. Namun, dengan pendekatan dan akhlak mulia yang dimiliki Ki Ageng Henis terhadap pemuka agama Hindu yang menguasai pura tersebut, akhirnya pura diperbolehkan menjadi mushola. Sejak saat itulah, aktifitas umat islam di Kawasan Laweyan maju pesat dengan didirikannya tempat ibadah ditempat tersebut.

“Dulunya ini Pura, lalu diubah oleh Ki Ageng Henis menjadi sebuah masjid,” katanya.

Seiring berlalunya waktu, Masjid pertama di kota Solo tersebut mengalami renovasi. Namun, tetap mempertahankan bagian-bagian khusus diseputar kawasan makam. Sehingga, nilai sejarah tetap nampak dibangunan sisi selatan dari Masjid Laweyan tersebut.

Editor : Marhaendra Wijanarko

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge