0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Ini Alasan Korban Penganiayaan Oknum Polisi Lama Melaporkan

dok.timlo.net/aditya wijaya
Supardi, kanan, korban penganiayaan oknum polisi usai melaporkan kejadian yang menimpanya di Mapolres Klaten (dok.timlo.net/aditya wijaya)

Klaten — Penasihat hukum korban penganiayaan oleh oknum anggota Polres Klaten, Prapto Wibowo, membeberkan alasan kliennya, Supardi (49), melaporkan Aiptu Malawat ke sentra pelayanan kepolisian terpadu (SPKT) Polres Klaten Senin (6/6). Padahal, kejadian tersebut menimpa korban pada 14 Februari 2016.

“Kami komplain. Karena dulu klien saya datang sendiri (belum ada penasihat hukum) laporan ke SPKT malah diminta ke Propam,” ujar Prapto.

Paska kejadian di Hari Valentine itu, dikatakan, sekitar pukul 18.00 WIB korban langsung mendatangi Mapolres Klaten dan diterima tiga petugas SPKT. Setelah menceritakan detail kronologisnya, dengan menggunakan handphone petugas lantas mengambil foto luka-luka lebam yang menimpa korban. Kemudian diperintahkan berobat ke Klinik Kesehatan Mitra Medika yang terletak di Jalan Prenjak Klaten.

Tiba di Mitra Medika, korban diberikan tindakan medis berupa bantuan oksigen, diberikan obat Iuar pada wajah dan diminta istirahat 30 menit oleh Dokter dan Perawat Perempuan. Dirasa pulih, warga Dukuh Gambiro RT 01/06, Desa Gunung Gajah, Kecamatan Bayat itu membayar biaya pengobatan dan kembali ke Mapolres Klaten.

Tiba di SPKT, luka Supardi kembali difoto, lalu diantarkan ke ruang Propam. Mengingat kondisi korban yang belum sehat, tiga petugas Propam meminta Supardi untuk menjalani pengobatan di Rumah Sakit Islam (RSI) Klaten. Jika sudah bugar, korban dapat datang kembali melapor.

Selama sepekan Supardi opname di RSI. Setelah membaik kondisinya, ia melaporkan kembali ke Polres Klaten. Oleh SPKT, korban diminta melapor ke Propam Polres lebih dahulu. Setelah laporan ke Propam selesai, Iptu Malawat lantas menjalani sidang disiplin di Polres Klaten.

“Memang sepekan yang lalu Propam sudah menjatuhi hukuman. Tapi itu cuma perbuatan tidak menyenangkan. Seharusnya dikenai unsur pidana penganiayaan dulu, baru sidang Propam atau berbarengan. Kayak tidak ada keadilan. Lha ini kan klien saya yang dirugikan. Padahal akibat penganiayaan itu, kepalanya mengalami pembengkakan otak,” beber Prapto.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge