0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Tradisi Menunggu “Dul” Masjid Agung Saat Berbuka Puasa

Abdul Basir, salah seorang takmir Masjid Agung Solo menunjukkan jam matahari tanda mulai dinyalakannya Dul (dok.timlo.net/aachmad khalik)

Solo —  Bagi sebagian masyarakat, Bulan Ramadan identik dengan kebiasaan lama yang kini telah pudar. Meski begitu, mereka masih menyimpan cerita untuk diteruskan ke generasi berikutnya. Salah satunya yakni, Abdul Basir. Bagi pria kelahiran tahun 60-an ini dia ingat ketika menunggu waktu berbuka di halaman Masjid Agung Solo.

Waktu itu, puluhan anak-anak seusianya berkumpul dengan masyarakat sekitar Kauman untuk menyaksikan penyalaan “Dul” di pelataran Masjid Agung. Dul adalah semacam petasan yang dinyalakan dari bawah. Saat menyala, Dul tersebut akan melesat ke udara dengan ketinggian puluhan meter dan meledak diatas. Bunyi petasan teresebut sangat membahana, bahkan dapat didengar hingga beberapa kilometer.

“Dulu, kalau waktu berbuka pasti banyak yang berkumpul disini (pelataran Masjid Agung) untuk menyaksikan Dul tersebut dinyalakan,” terang Basir yang juga Takmir Masjid Agung Solo tersebut.

Saat menyalakan Dul, salah seorang takmir Masjid Agung akan memasang bumbung atau semacam meriam kecil untuk landasan lontar keudara. Setelah itu, sumbu Dul sepanjang satu meter tersebut disulut menggunakan api. Dalam sekejap, Dul yang sejenis petasan itu melesat keudara dan menimbulkan suara sangat  keras.

Selain digunakan sebagai penanda waktu buka puasa, kata Basir, Dul juga berfungsi untuk menyeragamkan waktu berbuka dikawasan Kota Solo. Jika muadzin masjid belum mendengar suara Dul maka mereka belum berani mengumandangkan adzan Maghrib.

“Kalau dulu, semua adzan maghrib menunggu suara Dul dibunyikan, jika sudah terdengar suaranya barulah para muadzid mengumandangkan adzan,” terangnya.

Namun, seiring berjalannya waktu fungsi Dul ini tergeser lantaran dinilai membahayakan. Sekitar tahun ‘90an, Dul diganti dengan bunyi sirine yang dikeraskan melalui michrofon Masjid Agung supaya didengar oleh warga Kota Solo.

“Tahun 90an mulai dilarang penggunaan mercon yang biasa untuk menyalakan Dul ini, jadi diganti dengan sirine,” ujar Basir.

Editor : Marhaendra Wijanarko

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge