0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kesepakatan Uber Dengan Arab Saudi Diprotes Para Wanita Arab

Dok: Timlo.net/  Twitter.
Protes boikot Uber di Arab Saudi. (Dok: Timlo.net/ Twitter.)

Timlo.net—Kesepakatan antara Arab Saudi dengan perusahaan Uber Technologies Inc. menimbulkan kemarahan dan protes di antara para wanita Arab. Uber sebelumnya memperoleh investasi sebesar $3,5 milyar dari pemerintah Arab Saudi. Kemarahan ini dipicu karena kebijakan yang melarang wanita untuk mengendarai mobil. Dengan kesepakatan di antara Uber dan Arab Saudi maka pemerintah di negara itu dituduh memperoleh keuntungan langsung dari kebijakan ini. Selain itu, kerja sama ini dianggap mempromosikan kebijakan yang melarang wanita mengendarai mobil. Investasi ini merupakan usaha negara itu untuk memperoleh uang selain dari minyak.

Protes bermunculan di sosial media menggunakan hashtag سعوديات_يعلن_مقاطعه_اوبر# (Wanita Saudi mengumumkan boikot Uber). Para wanita ini memposting foto di mana mereka menghapus aplikasi Uber dari smartphone mereka.

Uber sudah beroperasi di Riyadh sejak 2014 dan bersama layanan lain, Careem, populer di antara wanita Saudi. Para wanita di negara itu sendiri sudah memperjuangkan hak untuk mengendarai mobil sendiri selama dua dekade. Mereka terpaksa membayar jasa sopir (kebanyakan orang asing) atau anggota keluarga laki-laki untuk mengantar mereka.

“Mereka berinvestasi dalam rasa sakit kami, penderitaan kami,” kata ahli sejarah wanita Saudi, Hatoon al-Fassi, yang mengajar di Qatar University dalam sebuah wawancara dari Doha. “Hal ini melembagakan inferioritas dan kebergantungan, dan pada akhirnya mengubah wanita menjadi obyek investasi,” tambahnya.

Selain larangan untuk menyetir mobil, ada banyak batasan yang dialami wanita Saudi. Mereka perlu izin dari seorang mahram, atau wali laki-laki untuk bersekolah atau berpergian dan untuk memperoleh perawatan medis. Walaupun lebih banyak pekerjaan terbuka untuk mereka, lebih banyak uang dihabiskan wanita untuk membayar sopir.

Media resmi Arab Saudi mengumumkan investasi mereka terhadap Uber tapi tidak mengungkapkan pengaruhnya terhadap larangan mengemudi untuk wanita. Jill Hazelbaker, seorang juru bicara wanita Uber berkata jika menambahkan pilihan untuk orang untuk menuju B dari A di Arab Saudi.

“Tentu saja kami berpikir wanita seharusnya diperlukan untuk mengemudi,” katanya kepada the New York Times. “Tidak adanya hak ini, kami bisa menyediakan mobilitas luar biasa yang sebelumnya tidak ada dan kami sangat bangga dengan itu,” tambahnya.

Faisal Abbas, editor-in-chief jaringan TV pemerintah Al-Arabiya berkata, “Masyarakat seharusnya tidak memandang investasi Uber ini sebagai cara untuk memaksakan larangan mengemudi. Kebalikannya: hal ini adalah sebuah cara langsung dan praktis untuk memberdayakan wanita dan memfasilitasi gerakan dan produktivitas mereka.”

Dukungan terhadap wanita muncul dari beberapa pria Arab termasuk Maan Al-Sharif, yang berusia 20 tahun di Khobar, “Investasi Arab Saudi untuk Uber adalah sebuah bukti terbesar jika melarang wanita mengemudi murni untuk alasan ekonomi. Agama dan masyarakat hanyalah alasan untuk mereka yang cukup bodoh untuk percaya.”

Seorang wanita menulis di Twitter terkait masalah ini, “@Uber saya merasa jijik mengetahui Anda hidup dari penderitaan wanita Arab yang dilarang mengemudi. Ya, Anda membuat situasi kami bertambah buruk!!”

Wanita lain berpendapat sama, “@Uber kami berjuang selama bertahun-tahun untuk memperoleh hak yang dimiliki setiap wanita lain di dunia ini. Sekarang karena Anda kami kehilangan harapan.”

Al-Fassi, seorang ahli sejarah di Doha berkata jika kesepakatan bisnis ini oportunistik. Dia berkata jika rencana transformasi negara itu dimaksudkan untuk memberdayakan wanita dan membuka lebih banyak peluang pekerjaan untuk mereka, sehingga membantu ekonomi. “Wanita tidak bisa berpartisipasi dalam rencana itu jika mereka berada di bawah belas kasihan seorang wali dan belas kasihan seorang sopir,” katanya.

Sumber: Bloomberg

Editor : Ranu Ario

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge