0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kalau Tidak Nyadran Rasanya Seperti Punya Hutang Janji

timlo.net/tarmuji
Peziarah mendoakan leluhur (timlo.net/tarmuji)

Wonogiri — Adat kebiasaan masyarakat jawa sampai saat ini masih dilestarikan. Salah satunya yakni Nyadran atau ngirim luhur, dimana para warga beramai-ramai mendatangi makam keluarga atau leluhur mereka untuk mengirim doa.

Di Wonogiri, biasanya, Nyadran ini dilakukan mulai sepekan sebelum puasa. Tak jarang warga yang merantau pulang kampung, meluangkan waktunya untuk melakukan adat istiadat jawa ini. Bahkan, banyak pegawai yang meminta ijin cuti Nyadran.

Dengan adanya tradisi Nyadran, pemakaman umum di pelosok desa, mendadak menjadi ramai dikunjungi para peziarah dari luar kecamatan hingga magrib datang.

Sebagaian besar warga memandang, prosesi ini hanya sebuah tradisi budaya yang berada di luar konteks agama. Namun demikian, tradisi ini tetap diuri-uri hingga saat ini

“Ini hampir setiap tahun, menjelang bulan puasa. Nyadran sudah menjadi bagian tradisi keluarga kami,” ungkap salah seorang peziarah asal Wonogiri, Roni, Minggu (5/6).

Roni sekeluarga melakukan prosesi nyadran ini tanpa ada ganjalan. Bahkan, waktu dan harinya sudah terjadwal. Bersama keluarganya, ia rela menempuh jarak hampir 80 kilometer yakni dari Wonogiri Kota menuju pemakaman umum di Kecamatan Giriwoyo menggunakan kendaraan pribadi.

“Kebetulan salah satu keluarga kami ada yang dimakamkan di Giriwoyo ini, mungkin saja alurnya dari ayah saya,” jelas bapak dua anak ini saat dijumpai Timlo.net.

Ada semacam naluri, jika tidak mengirim doa kepada leluhur dengan cara mendatangi makamnya ada sesuatu yang mengganjal dipikiran mereka. Terlebih saat menjelang datangnya bulan suci ramadan.

“Kata orang tua dulu, kalau tidak nyadran rasanya seperti punya hutang janji, ya karena sudah kebiasaan,” tandasnya.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge