0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Peserta Upacara Rela Berdandan Sejak Dini Hari

timlo.net/nanin
Kelelahan, peserta upacara yang mengenakan beskap terpaksa duduk di pinggir trotoar selama upacara berlangsung (timlo.net/nanin)

Boyolali — Sudah keempat kalinya, Upacara Hari Jadi Kabupaten Boyolali digelar memakai pakaian jawa, beskap dan kebaya. Tak ayal, PNS yang kedapatan mengikuti upacara harus bangun pagi-pagi sekali untuk mempersiapkan diri.

“Tadi mulai dandan pukul 03.00 WIB, ribet juga, setahun sekali tidak apa-apalah,” kata Susilowati, salah satu peserta upacara.

Tidak terbayangkan betapa ribetnya Susi, saat harus menyanggul rambutnya di salon. Belum lagi harus antri. Namun, bagi PNS wanita yang mengenakan jilbab, lebih praktis dan tidak memakan waktu lama.

“Jam 06.00 mulai dandan, cukup di rumah saja,” ucap Diah, PNS di Sekwan Boyolali  yang mengenakan jilbab.

Hanya saja, karena harus bangun sejak dini hari, banyak peserta upacara yang mengeluhkan pusing. Karena, sebagian besar mengaku belum sempat sarapan  dan harus berdiri di tengah teriknya matahari. Selain itu, banyak juga peserta upacara yang memilih duduk di pinggir trotoar saat upacara berlangsung.

“Jam 06.30 WIB sudah berdiri di barisan, tapi upacara baru mulai jam 08.00 WIB, dari pada pingsan, ya mundur saja,” ujar Budi,yang mengenakan beskap.

Disisi lain, menurut Kabag Humas dan Protokol Setda Boyolali, Wiwis Trisiwi Handayani, penggunaan bahasa jawa dan pakaian jawa dalam memperingati Hari Jadi Boyolali, bertujuan untuk melestarikan budaya jawa. Diakui, saat ini penggunaan pakaian jawa, beskap dan kebaya, hanya pada saat-saat tertentu saja.

“Upaya kita untuk terus melestarikan kebudayaan jawa yang adi luhung,” jelasnya.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge