0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

TimloMagz

Sate Kere dan Jerohan Sapi “Mak Nyus” Warung Yu Rebi

foto: David
Sate Kere (foto: David)

Timlo.net – Wong Solo sudah lama mengenal sate kere, sebutan untuk sate yang terbuat dari tempe gembus. Pada perkembangannya, tempe gembus yang terbuat dari ampas tahu itu juga diperkaya dengan jerohan sapi. Namun, di Warung Yu Rebi, kuliner sederhana itu sungguh mampu menjadi magnet yang membuat orang jauh pun kangen kembali ke Solo.

Warungnya cuma seluas 30 meter persegi, terletak di Jalan Kebangkitan Nasional, di selatan Stadion Sriwedari Solo. Tapi sebutan sate kere itu ternyata tak menghalangi mereka yang berkantong tebal untuk mampir.

“Pak Jokowi, semasa masih Walikota Solo sering singgah ke sini sekadar untuk makan siang,” tutur Yu Rebi, pemilik warung, saat berbincang dengan TimloMagz.

Dalam pengolahannya, tempe gembus menjadi bahan utama pembuatan sate kere. Tempe gembus yang sudah disiapkan direndam bumbu bacem. Kemudian, dibakar di atas bara api. Setelah matang, sate kere disajikan bersama guyuran sambal kacang manis pedas.

Namun, tak lengkap rasanya jika sate kere ini tidak disajikan secara komplet dengan sate jerohan sapi. Sate jerohan sapi terdiri dari hati, ginjal, limpa, iso, babat, torpedo maupun kikil. Sebelum dibakar, jerohan sapi direndam dalam bumbu khusus hingga meresap. Setelah matang, diguyur dengan bumbu kacang pedas manis atau dicampur dengan sate kere.

Seporsi sate kere dibanderol harga Rp 15.000, sedangkan untuk sate jerohan sapi seharga Rp 30.000. Bukan harga yang mahal tentunya untuk menikmati sajian khas Kota Solo ini.

Saya lahir dari orang keluarga yang tidak mampu. Makanya itu, saya kerja keras. Dan saat ini, sudah terlihat hasilnya,” kata Yu Rebi memapar kisah bisnisnya.

Soal nama, dia mengaku hanya bernama Rebi, sedangkan Yu di depan namanya adalah kependekan dari Mbakyu, sebutan lazim untuk perempuan yang lebih tua di Solo. Dengan nama itulah para pelanggan memanggilnya, ketika Yu Rebi menjajakan sate kere berkeliling jalanan kota Solo, sejak tahun 1965.

Hingga pada tahun 1985, karena merasa sudah letih berkeliling, Yu Rebi mencoba berjualan di lapak kaki lima di barat perempatan Penumping. Namun Yu Rebi masih berjualan keliling lantaran lapak dagangannya belum dikenal banyak orang.

Seiring berjalannya waktu, Yu Rebi akhirnya membuka cabang di belakang kawasan Stadion Sriwedari Solo atau di Jalan Kebangkitan Nasional, Penumping, Laweyan di tahun 1990. Di kios seluas 30 meter tersebut kini Warung Sate Kere dan Jerohan Sapi “Yu Rebi” banyak dicari dan diminati baik warga Solo maupun luar kawasan Solo.

“Sekarang sudah ada tiga cabang di Jalan Kebangkitan Nasional, Perempatan Penumping dan di Galabo (Gladag Langen Bogan-red),” kata Yu Rebi.

Meski saat ini telah sudah ada sekitar 10 karyawan, namun proses pembuatan bumbu dasar Yu Rebi masih ditangani sendiri.

“Untuk pemilihan bumbu, memilih bahan dasar saya kerjakan sendiri. Karyawan biasanya yang menyajikan saja,” terangnya.

Selama bergelut didunia kuliner, Yu Rebi telah merasakan pahit manisnya persaingan. Namun, saat ini dirinya telah merasakan manisnya kerja keras yang telah ia lakukan sejak muda dulu.

Spesial, dia tak bisa menyembunyikan mimik bangga saat bertutur tentang Jokowi dan keluarganya. Meski setelah jadi presiden belum pernah datang lagi, namun Yu Rebi masih mengingat kebiasaan Jokowi saat makan di sana, selalu memesan sate campur yang terdiri dari sate gembus dan jerohan sapi.

“Selain Pak Jokowi, anaknya Mas Gibran yang punya usaha katering itu juga sering ke sini,” pungkasnya.

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge