0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

TimloMagz

Mustafa Rahmatono, Dapat Julukan Ghost Buster

Mustafa Rahmatono (foto: David)

Timlo.net – Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Ungkapan bijak tersebut sangat pas untuk menggambarkan perjuangan Mustafa Rahmatono dalam menapaki karir di dunia perhotelan.

General Manager Best Western Premier Solo Baru ini mengaku mulai belajar mandiri sejak usianya masih sangat muda. Hal itu karena dirinya sudah menjadi anak yatim, sejak duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar. Saat itu juga kehidupanya sempat terbilang pontang-panting hingga akhirnya dirawat oleh kakek dan neneknya.

Dibesarkan dalam keluarga warok dan ningrat saat bersama kakek dan neneknya di Ponorogo, justru tidak menjadikan dia nyaman. Bahkan karena banyaknya aturan dalam keluarga, ia sempat berontak dan memilih untuk membaur dengan teman sebayanya. Mulai dari mengembala sapi, bermain di hutan, sungai tak jarang ia lakukan meski dilarang. Dari pengalamannya itu banyak pelajaran yang ia petik untuk memaknai kehidupan.

Karena kebandelannya itu, dia juga mengaku sempat berhenti sekolah setelah tamat SMP. Hingga akhirnya, pamannya bermurah hati untuk merawatnya. Dan melanjutkan pendidikannya di SMA Taman Siswa, Surabaya.

“Saat tamat SMP itu saya sempat bingung dan banyak berdoa, agar Tuhan berkenan membukakan jalan agar dapat melanjutkan sekolah. Dan alhamdulillah akhirnya dijawab melalui paman saya,” ujar bapak dua anak ini kepada TimloMagz.

Setelah berhasil melanjutkan pendidikan, ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Keseriusannya dalam belajar juga ia buktikan untuk mengambil ekstrakurikuler dan berkecimpung di organisasi siswa intra sekolah (OSIS). Di organisasi itu ia mulai belajar banyak hal, mulai dari manajemen organisasi, menjaga perilaku, sosialisasi dan lainnya.

Setelah berhasil lulus SMA pada 1987, dia bercita-cita untuk masuk di AKABRI. Bahkan sempat mendaftar dan menjalani tes terakhir. Meskipun akhirnya keinginannya itu harus kandas karena gagal seleksi.

“Waktu gagal itu saya pasrah. Saya berkeyakinan Tuhan memiliki rencana lain yang lebih baik,” tuturnya.

Hingga akhirnya pada 1990, Rahmat memutuskan hijrah ke Jakarta untuk ikut saudaranya yang bekerja di sebuah restoran. Karena tidak memiliki cukup pengalaman dan pendidikan yang menunjang, ia mengaku ditempatkan sebagai door man kala itu. Salah satu tugasnya adalah membuka dan menutup pintu saat tamu datang. Meski terlihat remeh, namun semua pekerjaan itu ia lakukan dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab. Bahkan di sela-sela waktu luangnya, ia rela membantu tugas temannya agar dapat belajar yang lain.

“Saya paham atas segala kekurangan yang saya miliki. Oleh karena itu saya semangat untuk belajar, dan ternyata usaha itu berdampak positif pada karir di restoran,” jelasnya.

Hingga akhirnya, karena kecakapan dan keseriusannya belajar di restoran itu, ia dilirik oleh owner. Dan berhasil naik jabatan sebagai captain restoran dalam waktu kurang dari enam bulan.

Setelah hampir dua tahun bekerja di restoran itu, akhirnya ia bulatkan niat ingin mencari pengalaman lain, dengan memutuskan untuk pindah tempat kerja. Kemudian ia diterima di restoran Planet Hollywood. Dan karena sudah cukup memiliki pengalaman, karirnya di tempat baru saat itu terus merangkak naik, bahkan sampai posisi manager.

“Karena sudah cukup berpengalaman kerja di restoran. Tidak sulit bagi saya untuk menyesuaikan diri,” jelasnya.

Namun karena ada banyak masalah di tempat kerjanya tersebut dan banyak alasan lain yang menjadi pertimbangan, akhirnya pada 1994 ia kembali mencoba pindah dengan mencari lowongan kerja di koran. Hingga akhirnya pada tahun itu juga ia diterima di Four Seasons Hotel Jakarta.

“Awal masuk kerja di hotel saya diberikan posisi sebagai room service. Dengan pengalaman kerja di hotel yang masih nol, tetunya saya sangat bersyukur sekali karena bisa diterima,” jelasnya.

Meski sebagai room service namun setiap pekerjaan yang ia lakukan tidak pernah setengah-setengah. Bahkan karena kerja keras dan ketekunan yang ia lakukan, akhirnya ia diberikan kesempatan oleh hotel untuk kursus bahasa Inggris. Karirnya pun melesat cukup cepat. Bahkan karena kemampuannya ia kembali dipercaya oleh pimpinan untuk mengisi sebagai assisten restoran manager.

“Kurang lebih sekitar 5,5 tahun saya kerja di sana. Karena merasa karir ditempat itu sudah mentok, akhirnya saya putuskan untuk kembali pindah dan melamar pekerjaan di hotel lain,” ungkapnya.

Tidak lama berselang, akhirnya ia berhasil diterima disalah satu resort di Pulau Bintan, Batam. Kurang lebih 4 tahun ia bekerja di Bintan. Dan untuk kesekian kalinya nasibnya kembali beruntung, karena kerja keras dan kedekatanya dengan owner, akhirnya ia dipercaya menempati posisi assisten manager. Bahkan sempat ditawari untuk kuliah di luar negeri.

Namun karena tidak kuasa meninggalkan anak dan istri, akhirnya ia putuskan kembali untuk pindah ke Jawa. Hingga akhirnya diterima sebagai manager di Amanjiwo Hotel Yogyakarta.

Di sinilah Rahmat mendapatkan julukan sebagai Ghost Buster. Hal itu karena dia berhasil mengusir hantu-hantu jahat yang kerap mengganggu para tamu hotel. Diceritakan dia saat itu ada tamu VIP yang komplain karena tidak nyaman saat tidur di hotel. Hal itu karena banyak diganggu sesuatu yang tidak nampak.

“Setelah berhasil saya usir, hotel yang sebelumnya sepi alhamdulillah akhirnya berhasil ramai kembali. Disitulah kedekatan saya dengan owner semakin terbangun,” ujarnya.

Masih banyak lagi pengalaman lain yang dia lakukan dalam mengelola hotel. Sederet pengalaman itu di antaranya adalah pernah menjabat sebagai Assistant Director of Food and Beverage di The Ritz Carlton Jakarta (2007-2008), Director of Food and Beverage di The Aryaduta Karawaci (2008), Director of Food and Beverage Sheraton Mustika Yogyakarta (2008-2010), General Manager di Banana Inn Bandung (2010-2011), General Manager di Golden Flower Hotel Bandung (2012), General Manager The Sunan Hotel Solo (2012-2015) dan Director of Operations Kagum Hotel (2015) dan terakhir sebagai General Manager di Best Western Solo Baru hingga sekarang.

Selain seabrek pengalaman mengelola hotel, Rahmat juga salah satu penggagas dari terbentuknya Assosiation Indonesia Hotel Manager (IHGMA). Dan sekarang ia menjabat sebagai Sekretaris DPD IHGMA Jawa Tengah.

Meskipun hanya tamat SMA, setidaknya Rahmat berhasil membuktikan diri, bahwa pengalaman, kemampuan dan kerja keras adalah pelajaran yang paling berharga. Karenanya mampu mengantarkan kepada karir yang tidak semua orang bisa dapatkan.

Bagi dia kehidupan harus dijalani dengan ikhlas, karena semua sudah direncanakan oleh Tuhan.

“Semua capaian ini tidak lepas dari prinsip yang selalu saya pegang. Yaitu Amanah, Ikhlas dan Ridho (AIR) dalam menjalani kehidupan,” tandasnya.

Editor : Dhefi Nugroho

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge