0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Belasan BPR Terancam Ditutup LPS

Direktur Risk Management and Bank Examiner LPS, Sumaryo (kiri) saat menyampaikan materi (timlo.net/setyo pujis)

Solo – Belasan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Indonesia mendapat sorotan khusus dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Jika bank tersebut tidak segera melakukan pembenahan, tidak menutup kemungkinan LPS akan melakukan penutupan.

“Ada sekitar 14 BPR yang saat ini sedang menjadi pengawasan khusus LPS. Dari total BPR yang mendapat pengawasan tersebut tiga diantaranya sudah ditutup,” ujar Direktur Risk Management and Bank Examiner LPS, Sumaryo kepada wartawan, Rabu (1/6).

Dikatakan dia, dari total tiga BPR yang sudah ditutup tersebut dua diantaranya berlokasi di pulau Jawa dan satu BPR di Sulawesi Selatan. LPS terpaksa melakukan penutupan, karena kondisi di dalam BPR tersebut sudah dianggap tidak layak untuk diselamatkan.

“Dari pengawasan yang kita lakukan, rata-rata penyebab dari BPR yang tidak sehat tersebut karena dipengaruhi atitude para pengurus yang tidak profesional. Mulai dari penyaluran kredit fiktif dan sikap dari pengurusnya sendiri, yang seenaknya mengambil dana dari BPR,” jelasnya.

Sumaryo juga menyampaikan, sejak LPS dibentuk pada 2006, sudah ada 69 bank yang telah dicabut ijinnya. Dari total tersebut, LPS telah melakukan pembayaran klaim simpanan sebesar Rp 767 Miliar.

Oleh karena itu, masyarakat diharapkan tidak perlu kuwatir saat melakukan penyimpanan di bank. Karena sesuai amanat Undang-Undang, pada saat kondisi krisis atau bank mengalami masalah sistemik keuangan, maka LPS berkewajiban untuk memberikan jaminan kepada nasabah yang bersangkutan.

“Hanya saja memang ada beberapa syarat simpanan yang mendapat jaminan dari LPS. Salah satunya,  bunga simpanan yang ditetapkan bank itu tidak melebihi dari suku bunga yang ditetapkan oleh LPS, yaitu 7 persen untuk bank umum dan 9,5 persen untuk BPR,” tandasnya.

Editor : Wahyu Wibowo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge