0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Upaya Hukum Hambat Eksekusi Mati Bandar Narkoba

timlo.net/nanin
Kepala BNN Budi Waseso (timlo.net/nanin)

Boyolali — Upaya hukum bandar narkoba yang telah divonis mati menjadi hambatan untuk segera dilakukan eksekusi.

“Ini menunjukkan sistem hukum di Indonesia terkait penangganan narkoba harus segera dilakukan perbaikan,” kata Kepala BNN Komjen Budi Waseso saat pencanangan Boyolali Anti Narkoba, Minggu (29/5).

Dijelaskan Buwas, selama ini proses eksekusi tidak bisa segera dilakukan. Karena adanya hak untuk melakukan upaya hukum seperti banding, kasasi, dan peninjauan kembali (PK) . Namun hal ini dimanfatkan bandar untuk mengotaki peredaran narkoba yang dikendalikan di lapas.

“Mereka justru ingin ditangkap oleh BNN agar bisa mengajukan upaya hukum baru, sehingga ini menghambat proses eksekusi,” tambahnya.

Disisi lain Indonesia saat ini merupakan pangsa pasar narkotika terbesar di Asean. Narkotika yang beredar di Indonesia kebanyakan berasal dari Cina ,Taiwan, Pakistan, India dan Iran serta sejumlah negara di Eropa.

“Di Indonesia itu apapun jenis narkoba dikomsumsi ,” tambahnya.

Tahun ini BNN sudah memusnahkan 16 kali barang bukti sitaan. Diantaranya 54 Kg sabu-sabu dan 191 ribu pil ekstasi yang dimusnahkan. Saat ini terdapat 500 jenis narkotika baru yang beredar di dunia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 43 jenis sudah beredar di Indonesia. Namun, hanya 18 jenis yang sudah masuk dalam pasal hukum sebagai unsur narkotika.

“Sisanya belum masuk dalam pasal hukum, sehingga sangat rawan karena tidak bisa dikenai sanksi hukum,” ujarnya

Sementara DIY dan Bali saat ini mendapat pengawasan ketat dari BNN. Pasalnya dua wilayah tersebut dekat dengan Australia dan merupakan penyuplai narkoba.

“Kita mensinyalir para bandar sedang menunggu kelengahan petugas ,” tegasnya.

Editor : Wahyu Wibowo

loading...


Komentar Anda

Berita Terkait

KEMBALI KE ATAS badge